Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 08 Juni 2019 / 04:10 WIB

Situasi Semakin Panas, Ini Imbauan KBRI untuk WNI di Sudan

SUDAN, KRJOGJA.com - Kondisi Sudan kini tengah bergejolak, puluhan jenazah dilaporkan telah dilempar oleh tentara Sudan ke sungai Nil dalam upaya menyembunyikan jumlah korban tewas akibat serangan fajar terhadap para demonstran pro-demokrasi di ibu kota Khartoum awal pekan ini.

Setidaknya 100 orang diperkirakan tewas dalam kerusuhan besar di Sudan, yang berada di bawah kekuasaan militer sejak Presiden Omar al-Bashir digulingkan pada bulan April.

Warga memblokir banyak jalan dengan barikade darurat saat mencoba melindungi lingkungan mereka dari para paramiliter dan pencuri.

Kondisi yang sangat membahayakan ini membuat sejumlah WNI yang ada di Sudan membutuhkan perlindungan.

Krisis di Sudan ini kemudian mendorong Kedutaan Besar Indonesia di Khartoum menyiapkan dua safe house atau tempat perlindungan bagi warga Indonesia yang memerlukan, kata Duta Besar Rossalis Rusman Adenan, demikian dikutip dari laman BBC Indonesia, Jumat (7/6/2019).

Rossalis mengatakan hal tersebut merespons situasi keamanan. Menurutnya, sejak 15 April lalu KBRI sudah menetapkan status siaga untuk seluruh masyarakat Indonesia yang ada di Sudan.

"Kami telah menyiapkan dua safe house (tempat perlindungan), masing-masing di Wisma Duta dan di kantor KBRI Khartoum. Di Wisma Duta dan di kantor KBRI kami menyediakan persediaan bahan-bahan pokok untuk sekitar 100 orang untuk masa satu minggu," kata Rossalis kepada BBC News Indonesia hari Kamis.

Menurut Rossalis, jumlah warga Indonesia di Sudan sekitar 1.300 orang, sebagian besar adalah mahasiswa di Khartoum.

Jumlah mahasiswa Indonesia sekitar 1.100 hingga 1.150 yang belajar di sejumlah perguruan tinggi di Khartoum, terutama di Universitas Internasional Afrika dan Universitas Omdurman.

Ada juga yang belajar di Univeristas Khartoum, Universitas Sudan dan di perguruan tinggi Alquran.

Selain itu, KBRI memperkuat tim perlindungan WNI yang beranggotakan staf KBRI Sudan dan perwakilan masyarakat, terutama dari kalangan mahasiswa.

"Koordinatornya dipilih berdasarkan wilayah konsentrasi di mana sebagian besar warga Indonesia bermukim, misalnya di sekitar Universitas Internasional Afrika. Banyak mahasiswa Indonesia yang tinggal di daerah ini" kata Rossalis.(*)