Olahraga Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 08 Juni 2019 / 00:31 WIB

Cerita PSIM Era 1985, Rela Tak Jadi Promosi Karena Persija Nyaris Degradasi

YOGYA, KRJOGJA.com - PSIM yang berdiri tahun 1929 memiliki sejarah panjang di blantika sepakbola nasional. Berbagai hal menarik, dramatis, sedih hingga sukacita telah dilewati tim yang berlambang Tugu ini. 

Tahun 1985 misalnya, PSIM yang kala itu diperkuat pemain-pemain lokal macam Siswado Gancis, Melius Mau, Susilo Harso hingga Semi Suparji dipaksa tak jadi naik Divisi Utama. KRjogja.com mendapatkan arsip berita KR terkait fakta tersebut dan berusaha mengklarifikasi pada salah satu saksi hidup, Susilo Harso. 

Menurut Susilo, di tahun tersebut PSSI tiba-tiba mengumumkan regulasi adanya pertandingan promosi-degradasi. Sebabnya, menurut Susilo saat itu tim ibukota Persija Jakarta finish di zona degradasi yang membuat tim lain terpaksa bersedia mengikuti pertandingan promosi-degradasi atau semacam playoff. 

“Harusnya tahun itu kita (PSIM) masuk jajaran tim elit Indonesia karena finish sebagai runnerup Divisi I saat itu. Tapi, karena Persija kena degradasi maka dibuat aturan baru ada pertandingan promosi degradasi seperti playoff, padahal seharusnya runner up otomatis naik Divisi Utama,” ungkap Susilo ketika berbincang dengan KRJOGJA.com, Jumat (7/6/2019). 

Saat itu PSIM diharuskan menjalani pertandingan di Cirebon melawan beberapa tim seperti Persija Jakarta, Persema Malang dan Persiba Balikpapan. Di laga melawan Persiba di Stadion Bima Pertamina Cirebon menurut Susilo, wasit kala itu membuat keputusan sangat merugikan bagi PSIM yang kemudian dikenangnya seumur hidup. 

“Pada pertandingan tersebut sangat menyedihkan tim kita dikerjai wasit yang seharusnya menang lawan Balikpapan karena dapat pinalti. Namun, sama wasit malah dikalahkan karena keputusan berubah tidak jadi pinalti yang membuat pemain kita tidak konsentrasi, lalu tahu-tahu ada pemain Balikpapan bawa bola. Mas (Siswadi) Gancis lengah karena masih protes keputusan, lawan bisa cetak gol. Kita dikerjai habis-habisan saat itu,” kenangnya tersenyum. 

Meski begitu, kala itu PSIM benar-benar dihuni pemain-pemain dengan mental baja terpaan kompetisi lokal di DIY. Boleh dibilang, masa-masa itu adalah puncak kejayaan pembinaan pesepakbola lokal DIY yang memiliki iklim kompetisi greget dan menghasilkan nama-nama melegenda penghuni PSIM. 

Nama-nama seperti YB Sugiyanto, Maryono, Siswadi Gancis, Redding Dupi, Triyono, Melius Mau, Haryadi, Susilo Harso, Saiful Bahri, Ahmad Gunarto, Sugito, Nyoman Arba Wibawa, Semi Supardji dan Edi Prapto menjadi bukti kesuksesan pembinaan pemain lokal yang mampu berbicara di kancah nasional. (Fxh)