DIY Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 06 Juni 2019 / 06:06 WIB

Sebut Kata Ini Langsung Ingat Yogyakarta

DAERAH ISTIMEWA Yogyakarta bisa dikatakan menjadi kota kenangan. Banyak masyarakat atau teringat akan keindahan objek wisata, kelembutan masyarakat dan budaya sampai tingginya kualitas pendidikan warganya. Yogyakarta selain menyuguhkan banyak tempat wisata, juga memiliki keunikan tersendiri.

Makanan misalnya, saat berkunjung ke Yogya, secara otomatis langsung terfikir gudeg. Makanan yang menjadi salah satu icon penting kota ini. Selain makanan khas, kota ini juga merupakan kota wisata. Mulai dari wisata yang bersifat keilmuan/sejarah sampai pada wisata alam dapat ditemui disini. Mulai dari museum, pantai, pegunungan, kebun buah, dan masih banyak lagi.  Inilah beberapa tempat yang dijadikan Icon kota Yogyakarta dan cukup dikenal:

1. Tugu

Tugu Yogya selama ini dianggap sebagai simbol kebesaran Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berada di jantung kota, tugu yang bernama Pal Putih ini disebut-sebut sebagai ‘pancer’ alias titik pusat daerah ini. Selain itu Tugu Yogya juga menjadi bagian dari sumbu imajiner yang ‘mempertemukan’ Pantai Selatan, Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi.

Layaknya bangunan-bangunan di Yogya, tugu juga memiliki mitos yang menyertainya. Konon siapapun yan berfoto di tugu maka akan muncul rasa rindu untuk kembali mengunjungi Yogya.  Tugu Yogya yang saat berdiri sebenarnya bukanlah bentuk asli dari bangunan tersebut. Awalnya tugu ini berbentuk slindris (Gilig) dan menyangga bola pejal (Golong) yang kemudian dinamai Golog Gilig.

Pada tahun 1755 Sultan Hamengkubuwono (HB) I memprakarsai pembangunan Tugu Golong Gilig. Pada hakekatnya Tugu Golong Gilig berisi pesan HB I kepada seluruh Sentanadalem (keturunan raja), Abdidalem (pelayan raja) dan Kawuladalem (rakyat biasa) untuk selalu memelihara semangat kebersamaan dan membulatkan tekad untuk menegakkan martabat.

2. Kraton

Kraton Yogyakarta merupakan kerajaan di nusantara yang hingga kini masih kokoh berdiri. Tak hanya bangun fisiknya saja yang tetap bertahan, namun struktur kepemerintahan di kerajaan ini juga masih ada dan berlaku hingga sekarang. Raja-raja besar mulai dari Sultan Hemengkubuwono (HB) I hingga saat ini yang ke X secara turun temurun bertahtah memimpin Mataram.

Kraton Yogyakarta didirikan bukan asal dibangun begitu saja. Dalam proses pendiriannya tentunya melalui berbagai tahapan spiritual layaknya yang sering dilakukan masyarakat Jawa. Setelah ditelusuri ternyata ada beberapa fakta menarik tentang letak Kraton Yogyakarta. Inilah beberapa penjelasan yang mengungkap misteri tersebut.

Kraton Yogyakarta didirikan saat ajaran Hindu masih banyak dianut

 

 

masyarakat tanah Mataram. Letak Kraton Yogyakarta berada di tengah dua kekuatan alam yakni Gunung Merapi di utara dan Pantai Selatan (Pantai Perangkusumo) sisi selatan.

 

Dalam kepercayaan Hindu dikenal adanya konsep Palemahan (hubungan harmonis antara umat manusia dengan alam lingkungan), Pawongan (hubungan harmonis antara sesama umat manusia) dan Parahyangan (hubungan harmonis antara manusia dengan Pencipta).

Pantai Selatan disimbolkan sebagai Palemahan, Kraton Yogyakarta di tengah-tengah sebagai Pawongan sedangkan Gunung Merapi sebagai Parahiyangan.

3. Pasar Beringharjo

Pasar Beringharjo adalah pasar utama di Yogyakarta dan mulai beroperasi sejak tahun 1758. Berlokasi di jalan Malioboro terkenalbdengan produk batik dengan berbagai macam variannya seperti baju, daster, kemeja, piyama hingga pernak perniknya.

Di pasar ini anda juga bisa menemukan hampir semua produk lokal Yogyakarta layaknya sebuah pasar induk, dari mulai daging, sayuran, buah buahan, peralatan masak hingga kebutuhan sehari hari.

Lokasi pasar ini juga dekat dengan museum benteng Vredeburg serta Gedung Agung (istana kepresidenan ketika jaman kemerdekaan). Pasar ini terkenal sebagai pusat tujuan turis baik mancanegara maupun turis lokal dan menjadi pusat aktivitas perdagangan.

Pasar tradisional yang terus berkembang ini dibangun di atas tanah seluas 2,5 hektar dan mengalami rehabilitasi sebanyak dua kali pada tahun 1951 dan 1970. Seiring dengan perkembangan zaman dan pemerintahan

 

 

maka pasar Beringharjo diambil alih oleh pemerintah kota Yogyakarta.

4. Gudeg

Gudeg telah dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya sebagai makanan khas dari KotaYogyakarta. Popularitas tersebut juga yang membuat Yogyakarta dikenal dengan nama Kota Gudeg. Gudeg adalah makanan tradisional yang terbuat dari Nangka muda (nangka) yang direbus selama beberapa jam dengan gula

kelapa serta santan.

 

Dengan dilengkapi dengan berbagai bumbu tambahan membuat Gudeg menjadi terasa manis dilidah dan memiliki rasa yang khas dan enak sesuai dengan selera masyarakat Jawa pada umumnya.

Pada penyajiannya, Gudeg biasa di lengkapi dengan nasi putih, ayam, telur rebus, tahu atau tempe, dan rebusan terbuat dari kulit sapi segar atau lebih dikenal dengan nama sambal goreng krecek. Ada beberapa jenis Gudeg yang dikenal saat ini yaitu jenis Gudeg kering dan Gudeg basah. Meskipun biasanya manis, Gudeg kadang juga memiliki rasa yang pedas seperti yang terdapat pada wilayah Jawa Timur.

Awalnya Gudeg yang dikenal oleh masyarakat Indonesia khususnya Yogyakarta jaman dahulu adalah Gudeg Basah. Seiring perkembangan jaman, kebutuhan Gudeg untuk oleh-oleh yang semakin berkembang juga seirama dengan munculnya Gudeg kering.

5. Malioboro

Jalan Malioboro adalah nama salah satu kawasan jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, dan Jalan Margo Mulyo. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Pada tanggal 20 Desember 2013, pukul 10.30 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X nama dua ruas jalan Malioboro dikembalikan ke nama aslinya, Jalan Pangeran Mangkubumi menjadi jalan Margo Utomo, dan Jalan Jenderal Achmad Yani menjadi jalan Margo Mulyo. Terdapat beberapa objek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas Jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg Yogya serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim, dan lain-lain di sepanjang jalan ini.

6. Universitas Gadjah Mada (UGM)

Universitas Gadjah Mada resmi didirikan pada tanggal 19 Desember 1949 dan merupakan Universitas yang bersifat nasional. Selain itu Universitas Gadjah Mada juga berperan sebagai pengemban Pancasila dan Universitas pembina di Indonesia.

Pada saat didirikan, Universitas Gadjah Mada hanya memiliki enam fakultas, sekarang memiliki 18 Fakultas, satu sekolah Pascasarjana (S-2 dan S-3), dan satu Sekolah Vokasi.

Universitas Gadjah Mada termasuk universitas yang tertua di Indonesia, berlokasi di Kampus Bulaksumur Yogyakarta. Sebagian besar fakultas dalam lingkungan Universitas Gadjah Mada terdiri atas beberapa jurusan/bagian dan atau program studi.

Kegiatan Universitas Gadjah Mada dituangkan dalam bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri atas Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Ditilik dari sejarahnya, Universitas Gadjah Mada merupakan penggabungan dan pendirian kembali dari berbagai balai pendidikan, sekolah tinggi, perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, Klaten dan Surakarta.

Nama Gadjah Mada berawal dari dibentuknya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang terdiri dari Fakultas Hukum dan Fakultas Kesusasteraan. Pendirian

 

 

diumumkan di Gedung KNI Malioboro pada tanggal 3 Maret 1946 oleh Mr. R. S. Budhyarto Martoatmodjo, Ir. Marsito, Prof. Dr. Prijono, Mr. Soenario, Dr. Soleiman, dr. Boentaran Martoatmodjo dan Dr. Soeharto.

 

Sejak 4 Januari 1946 Soekarno dan Hatta memindahkan ibukota Republik Indonesia ke Yogyakarta. Dengan maraknya pertempuran antara pejuang kemerdekaan dan Sekutu serta NICA di Jakarta dan Bandung, maka Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung ikut pindah ke Yogyakarta. Pada tanggal 17 Februari 1946, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung dihidupkan kembali di Yogyakarta dengan para pengajarnya antara lain Prof. Ir. Rooseno dan Prof. Ir. Wreksodhiningrat. (*)