Ragam Editor : Agus Sigit Selasa, 28 Mei 2019 / 17:46 WIB

Hii Sereem! Dikira Ayam 'Angrem', Ternyata..

PADA akhir tahun 70-an, penerangan umum di kampung belum seperti sekarang. Tidak ada lampu jalan. Hanya ada ting yang digantung di bambu atau kayu di pinggir jalan. Penerangan yang sedemikian menciptakan suasana jalan yang remang-remang.

Sebut saja Kadir, menceritakan pengalamannya yang terjadi di wilayah Bantul selatan, khususnya Srandakan, saat masih berumur 18 tahun.

Saat itu, pagi-pagi sebelum subuh, Kadir harus mengantar ibunya yang seorang pedagang sayuran. Biasanya ia mengantar ke rumah Lik Warno. Di sanalah ibunya dibantu Lik Warno untuk berjualan di Pasar Bantul. Dulu bus Yogya – Srandakan belum ada. Ibunya menumpang colu pikup Lik Warno.

Setelah mengantar ibunya, Kadir langsung pulang agar bisa sekalian persiapan sebelum sekolah. Kali ini ia harus melewati jalanan yang bukan biasanya, karena jalannya sedang diperbaiki. Tapi jalanan itu juga ada jembatan yang terbilang wingit.

Naas bagi Kadir, rantai sepeda yang dinaikinya lepas. Kadir terpaksa menuntun sepedanya di jalanan yang gelap. Sesekali ia merasa merinding. Apalagi akan melewati makam desa. Saat itulah, tercium bau bunga kamboja yang menyengat.
Saat melirik ke gerbang makam, ia melihat seperti ada seekor ayam yang sedang angrem. Karena penasaran, Kadir mendekatinya.

“Wah, subuh-subuh kok ada ayam angrem. Tak ambil sajalah mumpung gak ada yang lihat. Mungkin rezekiku,” gumam Kadir.

Setelah mendekati, ia melihat lebih jelas. Gandriiik…!!! Kadir kaget setengah mati. Ternyata itu gundul pringis yang tengah menyeringai dengan taringnya. Kadir secara reflek kemudian melempar gundul pringis itu.

Setelah itu lari tunggang langgang sambil menuntun sepeda. Sialnya gundul pringis itu terbang mengikuti Kadir. Dengan lari yang cepat, Kadir menjatuhkan sepedanya dan ditinggalkan di bulak sawah.

“Tolong… tolong… ada gundul pringis…” teriak Kadir.

Sampai kemudian ia bertemu serombongan orang yang akan salat Subuh di masjid.
“Dir, kok teriak-teriak kenapa?” tanya salah seorang.

“Itu disana ada gundul pringis ngejar saya pakdhe. Sepedaku tak tinggal di mbulak sawah,” kata Kadir dengan nafas terengah-engah.

“Makanya jangan keluyuran jam segini. Ini waktunya Subuh, ayo ikut salat saja.”

Kadir pun menurut ikut salat Subuh, Setelah hari terang, ia kembali ke mbulak untuk mengambil sepedanya. Sejak kejadian Kadir tak mau lagi lewat jalan tersebut kecuali siang hari. (Septaberlianto)