DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 25 Mei 2019 / 15:55 WIB

Ternak dari Bajiharjo Sementara Dilarang ‘Keluar’

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Pemkab Gunungkidul melarang menjualbelikan ternak dari Desa Bejiharjo, Karangmojo sebelum vaksinasi anthraks dinyatakan selesai seluruhnya. Bahkan saat ini sudah dilakukan lokalisasi larangan transportasi ternak yang melintasi jalan lingkar utara Wonosari. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi penularan penyakit berbahaya tersebut.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang terkait dengan anthraks ini karena sudah dinyatakan kelima ekor sapi milik warga positif terjangkit berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium,” kata Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Gunungkidul Azman Latief.

Dalam tindakan antisipasi tersebut, Pemkab Gunungkidul melakukan screening massal, vaksinasi dan melakukan penyuluhan kepada seluruh warga Desa Bejiharjo Kecamatan Karangmojo. Selain itu seluruh OPD memiliki peran masing-masing.

Dinas Perhubungan sudah melakukan pemantauan dan melarang kendaraan pengangkut sapi melintas di sekitar wilayah Desa Bejiharjo. Hal tersebut dilakukan mengingat Desa Bejiharjo merupakan jalur yang digunakan menuju pasar hewan baik itu pasar hewan Siyono atau Semanu.

Terkait langkah antisipasi ini, warga dan kalangan peternak di daerah serangan juga sudah dilakukan sosialisasi. Bahkan secara khusus sudah dikoordinasikan dengan instansi terkait untuk membuat aturannya. “Lalu-lintas angkutan ternak kini tidak lagi dilewatkan Desa Bejiharjo, tetapi dicarikan jalur lain,” imbuhnya.

Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Bagoes Poermadjaja menambahkan, ternak yang terpapar dan terindikasi terkena penyakit anthraks terdapat beberapa indikator. Di antaranya bagian limpa sapi yang terserang anthraks membesar, darah yang keluar tidak akan membeku.

Hal ini juga sudah disosialisasikan kepada masyarakat mengenai penanganan hewan ternak yang diindikasikan terserang anthraks. “Masyarakat juga sudah diingatkan bahwa yang berpotensi bahaya jika daging sapi yang terpapar anthraks tersebut dikonsumsi manusia Seharusnya sisa daging yang diduga terinfeksi bakteri dan spora anthraks dikirim ke laboratorium untuk diteliti. Namun sayangnya sudah tidak lagi menemukan daging tersebut,” ucapnya.

Bakteri anthraks yang ditemukan di Gunungkidul ini baru pertamakali terjadi dan kemungkinan berasal dari luar daerah. Kabupaten Gunungkidul selama ini memang dikelilingi wilayah endemis anthraks, seperti Kulonprogo, Pacitan, Jawa Timur, Wonogiri dan Sragen, Jawa Tengah.

Lalulintas perdagangan ternak selama ini juga berasal dari daerah-daerah endemis anthraks seperti Wonogiri, Sragen dan Pacitan, Jawa Timur. “Selama ini Gunungkidul adalah daerah bebas dari anthraks,” terangnya. (Bmp)