DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 25 Mei 2019 / 11:12 WIB

271 Kasus DBD Terjadi di Gunungkidul

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com -Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul mencatat serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) pada bulan Januari-Mei 2019 tercatat masih cukup tinggi. Dinas Kesehatan menc atat kasus serangan DBD selama lima bulan terakhir mencapai 271 kasus, dan dari jumlah tersebut diketahui terdapat satu penderita dinyatakan meninggal dunia akibat demam berdarah berasal dari wilayah Kecamatan Karangmojo.

“Satu kasus diketahui meninggal dunia terjadi di Kecamatan Karangmojo, karena jumlah kasus DB di sana termasuk cukup banyak,” kata Sekretaris Dinkes Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka.

Jika melihat jumlah kasus yang terjadi pada tahun ini terlihat tidak lazim dimana peningkatan jumlah penderita DB justru terjadi pada bulan-bulan yang sudah jarang terjadi turun hujan. Berdasarkan data yang ada untuk Januari lalu terdapat sebanyak 55 kasus, Februari 66 kasus, Maret 68, April 70 dan pada Mei 2019 ini baru terjadi sebanyak 12 kasus.

Dimungkinkan jumlah penderita akan bertambah karena data yang diperoleh baru sampai pada pertengahan bulan. Adapun terjadinya peningkatan jumlah kasus DB tersebut diduga lantaran minimnya upaya PSN di lingkungan keluarga. “Karena sudah tidak ada hujan kemungkinan serangan DB berasal dari tempat-tempat penampungan air yang selama ini menjadi sarang nyamuk,” imbuhnya.

Mengenai persebaran kasus demam berdarah untuk tahun ini terjadi di 18 kecamatan atau menyeluruh di wilayah Gunungkidul, dan terdapat ada beberapa kecamatan yang sebelumnya tidak pernah terjadi kasus. Kecamatan Girisubo dan Purwosari yang biasanya tidak ditemukan kasus demam berdarah, tahun ini terjadi.

Untuk wilayah terbanyak Kecamatan Wonosari mencapai 42 kasus, kemudian Karangmojo 40 kasus dan Ponjong 31 kasus. Dinas masih mendalami terjadinya kasus demam berdarah ini Dinas Kesehatan mendorong melalui puskesmas masing-masing kecamatan untuk membentuk jumantik satu rumah satu petugas. Dengan adanya petugas di lapangan, nanti akan ada feedback yang ditimbulkan.

“Jika jumlah jentiknya sudah melebihi ambang batas maka akan dilakukan fogging (pengasapan). Fogging tidak bisa dilakukan asal-asalan, harus melalui kajian terlebih dahulu,” terangnya. (Bmp)