DIY Editor : Danar Widiyanto Jumat, 24 Mei 2019 / 22:10 WIB

Wagub DIY : Mungkin Pelaku Klithih Tidak Punya Ruang Berekspresi

YOGYA, KRJOGJA.com - Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, KGPAA Sri Paduka Paku Alam X, menuturkan faktor aksi Klithih yang beredar di kalangan pelajar dimungkinkan mereka tidak punya ruang berlebih untuk berekspresi. Oleh karenanya, berikan mereka kegiatan dolan 'serawung'.  

Berprestasi tidak selalu dalam bidang akademisi, tetapi dibidang sosialpun sama pentingnya. Menurutnya, tanggung jawab pelajar itu adalah bagaimana mereka mempersiapkan diri untuk pendidikan lebih lanjut. 

Sudah banyak diagensi pengkristisan yang tidak mengenal dikalangan pelajar, seperti Klithih misalnya. Karena pelajar tidak punya ruang atau tidak punya kesempatan untuk berekspresi.

"Apa iya hidup itu hanya untuk belajar. Kapan serawunge. Jadi dolan itu penting. Kalau wong Jowo ada istilah dolan ning dalan taat azas. Dalan tanda kutif artinyaa kegiatan yang kita laksanakan itu sesuai dengan azas yang baik sopan santun, tatakrama," kata Wagub DIY KGPAA Sri Paduka Paku Alam X dalam sambutanya diacara refleksi hari kebangkitan Nasional di Aula Boedi Oetomo. Kamis (23/05/2019). 

Cara agar mereka (pelajar) terhindar dari hal negatif itu, harus membuat mereka senang dengan kegiatan yg disukai. Adanya suatu wadah atau kegiatan yang mereka suka,  buah hasilnya adalah prestasi. Kendati demikan, harus dilakukan dengan jalur, baik dan positif. 

Pentingnya dolan (bermain)  yang dimaksud itu adalah saling serawung yang berarti silaturrahmi. Menurutnya, fungsi dari serawung itu bentul betul bermanfaat. Kemudahan yang didapat  banyak sekali.

"Kita harus membuktikan bahwa di Yogya masih banyak pelajar yang baik dan peduli terhadap kedamaian," tambahnya. 

Dalam kesempatan yang sama, Asep Surya pendamping forum pelajaran pencinta alam Yogyakarta mengatakan, kenakalan pelajar yang berupa aksi Klithih itu tidak bisa diputus. Namun, bisa dihindari dengan membuat gerakan yang dapat mengimbangi aktifitas itu. 

"Disekolah sudah berusaha memutus jaringan itu tetapi ternyata masih melebar ke genk yang lebih yaitu ke kampung," ucapnya. 

Bahkan, lanjut Asep, meraka (pelajar) ikut resah dan sudah tahu area mana yang harus mereka lewati dan baju apa yang harus mereka gunakan, helm apa, jam berapa meraka bisa keluar.

"Mereka sudah tahu tapi itu kembali lagi dengan mengsiasasti atas kondisi itu, oleh karena itu,  kita berikan kegiatan yang positif. Karena diusia ini, kenakalan lagi matang-matangnya. Tetap harus dibawah pengawasan keluarga," tambahnya. 

Menurutnya, masih ada generasi yang akan terus melanjutkan sebuah gerakan perdamaian nantinya. Dengan serawung,  minimal mereka dapat menyapa para tetangga disekitarnya. 

"Semoga yang kedepan generasi ini bisa membuat gerakan perdamaian Indonesia lebih maju," pungkasnya. (Ive)