Kisah Inspiratif Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 24 Mei 2019 / 10:50 WIB

IPK 'NGEPAS' SUKSES MELAKUKAN TRANSFORMASI BISNIS DI PERUSAHAAN

Bayu Seto Ingin Hidupkan Hotel Tradisional di Yogyakarta

PERKEMBANGAN industri di era yang semakin digital menuntut perusahaan harus gesit dan bisa beradaptasi dengan lingkungan. Transformasi bisnis dibutuhkan untuk menghadapi disruption dan melayani konsumen yang semakin menginginkan kecepatan dan proses yang simple.

Hal ini pula yang menjadi fokus utama Bayu Seto sebagai Region Head Java Oyo Hotel and Homes Indonesia. Meski belum lama menduduki jabatan ini, perjalanan Bayu di dunia digital terbilang matang dan kecintaan terhadap Yogyakarta, terutama di salah satu hotel tradisional memacu adrenalinnya untuk memperkenalkan teknologi guna menumbuhkembangkan kembali minat masyarakat untuk menginap di hotel tradisional yang ada di Yogyakarta.

"Saya punya hotel langganan di Yogyakarta. Gedungnya bersih, namun tempatnya masuk ke dalam gang sempit. Hal semacam ini harus dibenahi agar hotel tradisional yang ada di Indonesia bisa bangkit kembali," ungkap Bayu di sela temu media belum lama ini.

Impian itu selalu berhasil digapainya sebelum bergabung di perusahaan start up asal India ini.Dia pernah berhasil mengubah beberapa perusahaan dan mendorong pertumbuhan bisnis sehingga layak disebut sebagai ahli transformasi bisnis perusahaan.  Pria ini pernah menduduki posisi Chief Commercial Officer di Gig by Indosat Ooredoo. Tentu, ada banyak tantangan yang dilalui untuk mencapai kesuksesan. 

Perjalanan Sederhana Penuh Makna

Perjalanannya dimulai secara humble setelah lulus dari Program Studi S1 Teknik Industri Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2007 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 2,1. Lulus dengan IPK yang tidak terlalu bagus dan 5 tahun masa studi, Bayu pernah merasa kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. 

Panggilan kerja pertama yang didapat berasal dari CV Akal Cahaya Media Advertising, perusahaan kecil di Bandung, untuk menjadi sales agent dan telesales. Kegiatannya sehari-hari adalah menawarkan media iklan ke restoran atau obyek wisata mau beriklan.

Penghasilannya kurang lebih Rp 1.200.000 per bulan (mencakup gaji pokok Rp 500.000, uang jalan sekitar Rp 200.000 dan bonus atau komisi). Bayu sempat menganggap kariernya sebagai sales agent dan telesales saat itu yang buruk dan bahkan malu untuk bertemu teman.  Setelah bekerja hampir 1 tahun di Bandung, Bayu merantau ke Jakarta untuk bekerja dan kuliah bekerja di 2 perusahaan, Octobrand dan Indonet. Sambil melanjutkan kuliah magister pemasaran di Prasetya Mulya Business School. 

Di kedua perusahaan tersebut, mendalami research. Ia magang sebagai peneliti di Indonet dan juga menjadi peneliti (baca: membagikan kuesioner) dalam proyek penelitian Word-Of-Mouth di Octobrand. Setelah tamat belajar di Prasetya Mulya, Bayu memilih bekerja di Gunung Sewu Kencana. Ia bercita-cita untuk terjun di dunia marketing dan branding, tapi ia malah menangani perkebunan nanas di lokasi yang dapat dijangkau sekitar 2 jam perjalanan dari Bandar Lampung. 

Perkebunan tersebut milik anak perusahaan Gunung Sewu Kencana, Great Giant Pineapple, yang merupakan perusahaan nanas terbesar ke-3 di dunia. Bayu harus mengakrabkan diri dengan persoalan operasional plantation selama 4 bulan. Akan tetapi, masa itu mempersiapkannya untuk ‘naik kelas’. Great Giant Pineapple berusaha melakukan transformasi. 

Guna mencapai tujuan itu, perusahaan mendapat bantuan dari konsultan. Bayu di-interview dan berhasil masuk ke dalam tim corporate strategic planning yang dipimpin oleh mantan associate McKinsey, Antony Wangsanata, alumnus Stanford University dan University Wisconsin-Madison.

Pada tahun 2011, Sinar Mas Land sedang mencari manajer Program Management Office (PMO) untuk mentransformasi perusahaan. Kriterianya adalah kandidat harus berpengalaman mentransformasi perusahaan konglomerasi. Bayu pun ditawari posisi tersebut dan bertanggung jawab dalam pembuatan struktur organisasi baru (karena perusahaan dalam tahap merger BSD dan Duta Pertiwi), Key Performance Index (KPI) dan standard operating procedure (SOP) pertama.

Sekitar dua atau tiga tahun kemudian, Bayu mencoba peruntungan di GrabTaxi (sekarang Grab) dengan menjadi Country Head of Business Development. Ketika bergabung, startup  ride-hailing asal Singapura itu masih kecil. Hari pertamanya dipenuhi dengan kejutan dan kebingungan. Dia kaget melihat kantor GrabTaxi yang berupa ruko kecil di Benhill dan keadaan yang kacau dimana semua orang sibuk. Bayu yang sebelumnya hanya wawancara via Skype, memang belum pernah ke markas GrabTaxi. Belum pulih dari rasa kaget, ia dibuat bingung karena harus langsung bekerja tanpa training.

“Saya kaget, ternyata di startup, kayak GrabTaxi kita harus men-train diri kita dan mencari tahu apa aja yang ada di perusahaan. Ini menjadi tantangan tersendiri buat saya ya,” cerita pria yang pernah juga menjadi dosen manajemen strategis di Universitas Multimedia Nusantara.

Dari produk yang tadinya hanya GrabTaxi, lalu mereka meluncurkan GrabBike, dan GrabCar. Tim Bayu awalnya terdiri hanya dari 2 orang, menjadi terus bertambah. Di Grab ia mendalami tentang cara men-scale up bisnis―atau membuat bisnis naik kelas—dengan memperhatikan budaya lokal. Setelah tiga tahun di Grab, Bayu ditawarkan menjadi Commercial Director di Gig by Indosat Ooredoo (anak perusahaan Indosat Ooredoo). Ia diharapkan dapat mentransformasi agar lebih agile, digital dan cepat. Bayu pun kembali berhadapan dengan tantangan baru.


Transformasi Hotel Tradisional

Dia menjelaskan ingin membawa 'angin perubahan' di hotel tradisional yang ada di Yogyakarta. Bahkan, pemilik hotel kesukaanya itu telah bergabung dengan manajemen OYO. Awalya, okupansi hanya 20 persen dengan harga Rp150 ribu, saat ini tingkat okupansi telah mencapai 85 persen dengan harga Rp200 ribuan per kamar.

"Pertumbuhan tidak hanya didominasi pusat (Jakarta). Daerah termasuk Yogyakarta memiliki kesempatan itu. Kami akan gencarkan sosialisasi kepada pemilik hotel atau guest house tradisional agar menggunakan teknologi yang akan membantu pertumbuhan bisnis mereka. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen," tandasnya. 

Dia menjelaskan keinginan untuk memperkenalkan kembali hotel tradisional lantaran melihat dan mengalami langsung saat kesulitan mendapatkan kamar saat berlibur di Yogyakarta. 

"Masyarakat mengantri di pom bensin saat liburan karena kesulitan mendapatkan tempat menginap. Padahal di Yogyakarta gudangnya hotel dan guest house dengan harga terjangkau. Melalui teknologi, kebutuhan hal ini bisa terpenuhi dan membantu semua pihak," pungkasnya. (tomi sujatmiko)