Pendidikan Editor : Danar Widiyanto Kamis, 23 Mei 2019 / 20:50 WIB

Pola Asuh Otoriter dan Otoritatif, Jati Diri Anak Kuat!

SLEMAN, KRJOGJA.com - Perpaduan pola asuh otoriter dan otoritatif dimaknai positif oleh remaja di Yogyakarta. Perilaku otoriter orangtua dilakukan saat keduanya menanamkan nilai agama, sosial dan menuntut ketaatan remaja. Namun, di sisi lain, mereka juga memberikan kebebasan, menghargai hak intelektual dan sosial remaja tanpa melepas tuntunan perilaku berdasarkan agama dan norma masyarakat yang berlaku.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr Enung Hasanah MPd dalam penelitian disertasinya berjudul 'Pengalaman Remaja tentang Pola Asuh Keluarga di Kota Yogyakarta'. Dalam penelitian tersebut, Enung mewawancarai sejumlah siswa di SMA Negeri 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 7 dengan alasan karakteristik lingkungan yang cenderung sama namun identitas diri berbeda.

"Komunikasi dua arah menjadi hal paling penting bagi para remaja karena hal tersebut berkaitan dengan munculnya rasa dihargai sebagai individu, juga perasaan mendapatkan kebebasan berpendapat," jelasnya dalam ujian akhir disertasi Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Gedung Pasca Sarjana, Kamis (23/5/2019). Ia melanjutkan, adanya gaya komunikasi tersebut memunculkan rasa senang, perasaan disayangi dan lebih terarah dalam proses pembangunan identitas diri mereka.

"Sementara, gaya pengasuhan yang tidak memadukan dua gaya tersebut bisa dimaknai negatif oleh para remaja karena dianggap merampas otonomi mereka. Ini bisa menimbulkan difusi identitas dan kerenggangan hubungan orangtua dan anak," kata Enung yang juga aktif menjadi anggota Badan Akreditasi Sekolah/Madrasah DIY itu. Lebih lanjut, ia menyarankan orangtua dan guru sebaiknya menjalin hubungan baik. Pasalnya, remaja Jawa tidak suka dikekang tetapi juga tidak ingin dibiarkan begitu saja.

"Dalam masyarakat Yogyakarta, sosok orangtua perlu dikembalikan pada fungsi utamanya, yakni sebagai pengontrol nilai," tandasnya. (M-1)