REMAJA JADI MUCIKARI

Setitik Noda Kota Pelajar

Ilustrasi PSK Remaja (Joko Santoso)

SEBUAH fakta mengejutkan ditemukan oleh Reporter Remaja 'Kaca' SKH Kedaulatan Rakyat. Ternyata di Yogya ada praktek prostitusi yang dilakukan  oleh orang-orang yang masih remaja. Tentu hal ini menjadi setitik noda bagi daerah yang mendapat julukan Kota Pelajar. Berikut tulisan tentang pelajar  yang menjadi mucikari yang ditulis oleh Reporter Remaja KR.

Sebut saja saja namanya Kamboja, usianya masih kelas X di sebuah sekolah negeri di Yogyakarta. Pertama kami mendengar sepak terjangnya, mulut  kami terganga. Tidak ada dalam bayangan kami sedikitpun remaja putri ini punya pekerjaan sebagai mucikari. Iya mucikari alias germo adalah orang yang berperan sebagai pengasuh, perantara, dan atau pemilik Pekerja Seks Komersial (PSK).

Narasumber yang Kaca temui ini memang tidak memiliki tempat untuk menampung PSK, namun dia sebatas sebagai perantara. Lebih membuat kami  menahan nafas lagi adalah orang-orang yang dia tawarkan adalah remaja yang sebagian besar seumuran dengan dia. Dalam usianya yang masih remaja itu, ia telah masuk pada usaha prostitusi tersebut, yaitu menjadi agen penjualan PSK, yang juga sesama pelajar.

Remaja berambut sebahu ini mengaku bahwa ia memulai pekerjaan seperti itu sejak Kelas 3 atau Kelas IX SMP semester akhir. Ia mulai mengenal dunia  human-trafficking dari teman-teman sekolahnya maupun lingkungannya, yang menjadi PSK. Ia menjadi penjual seks kaum remaja putri bagi lelaki yang membutuhkannya, termasuk teman-teman sebayanya. Modus penawarannya pun beragam.

Tarif PSK Remaja Mulai Rp 100 Ribu

MUCIKARI yang masih remaja ini punya cara tersendiri untuk 'menawarkan' anak asuhannya. Tidak semua orang bisa dengan mudah mendapatkan  akses untuk bertemu atau memesan padanya.

Modus penawarannya pun beragam. Mulai dari melalui sosial media seperti Blackberry Messenger (BBM), SMS, sampai bertemu muka langsung dengan konsumennya. Menurutnya, ia hanya membantu memasarkan kawan-kawannya yang berprofesi sebagai PSK.

Sebenarnya ia masih tergolong amatir, karena pengguna jasanya sedikit, dan ia hanya memasarkan teman-temannya saja. Selain itu, PSK yang ia  tawarkan tergolong jumlahnya sedikit.  Narasumber Kaca ini memang agak tertutup menjelaskan tentang lika-liku pekerjaannya. Ia mengisahkan bahwa cara ia menawarkan kawan-kawannya  adalah melalui Blackberry Messenger (BBM). Pelanggannya pun rata-rata juga remaja.

Menurut pengakuan Kamboja, tarif untuk satu orang rata-rata Rp 100 ribu - Rp. 500 ribu untuk satu kali transaksi. Untuk setiap kali transaksi ia  mendapatkan komisi 25 persen. Dalam sebulan, dirinya hanya bisa mendapat Rp. 400 ribu- Rp. 600 ribu.

Konsumennya mulai dari kalangan pelajar SMA sampai mahasiswa yang sudah kuliah, dengan kisaran usia 15-19 tahun. Remaja putri ini dengan percaya  dirinya menawarkan PSK-nya pada teman-teman di sekolah, dengan cara menunjukkan foto-foto yang tidak senonoh. Ia juga tidak sembarangan untuk menerima orang yang akan berkencan dengan remaja-remaja yang ada dalam 'asuhannya'. Seperti apa pemesan yang ia terima?

Ini Syarat Berkencan dengan PSK Remaja

SEBAGAI mucikari, Kamboja tidak serta merta asal menerima orang-orang yang akan berkencan dengan PSK remaja yang ada dalam asuhannya. Ia  selektif untuk menerima permintaan tawaran kencan dengan anak asuhnya.

Kamboja tidak sembarangan menerima orang yang akan berkencan dengan remaja-remaja yang ada dalam 'asuhannya'. Ia harus memastikan dulu, bahwa orang tersebut tidak main-main. Salah satunya adalah dengan selektif hanya mau menerima orang yang direkomendasikan oleh pelanggannya.

Kamboja akan menolak jika orang tersebut baru dikenalnya dan tidak bisa menyebutkan siapa yang merekomendasikan untuk menghubunginya. Ia sendiri tidak mau secara jujur menyebut berapa remaja atau pelajar yang ada dalam 'asuhannya'.

Kamboja sendiri tidak secara tegas menceritakan alasannya menjadi mucikari. Namun yang jelas, kurangnya perhatian dari orangtua membuatnya  mencari kesibukan sendiri. "Yang saya takuti kalau sampai pihak sekolah tahu tentang aktivitas saya. Mungkin saya bisa diskors atau bahkan dikeluarkan,"  kata Kamboja ketika ditanya ketakutan terbesar dari pekerjaannya. Kami hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya.

Orangtua Harus Peka!

Dra Titik Muti'ah MA PhD, dosen psikologi dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, mengatakan bahwa kebanyakan yang terjebak dalam pergaulan bebas adalah anak yang lugu. Daerah Bantul, di sebelah selatan Jogja, memiliki cukup banyak kasus seperti ini, karena kesalahan dalam wawasan reproduksi. Jika seorang remaja perempuan melakukan seks bebas, lalu hamil, kehidupan masa depannya terhenti, dan tidak seperti laki-laki yang masih bisa menjalani hidup secara normal.

Menurutnya, bisnis seperti ini biasanya dilakukan oleh orang dewasa tetapi kasus ini dilakukan oleh remaja. Remaja seharusnya bisa berpikir realistis tetapi gejolak dari emosi dan perasaannya menjadikannya salah arah. Pada dasarnya, tumbuhnya rasa ingin menjadi pelaku dalam perdagangan manusia ada yang karena latar belakang (background) keluarga yang memang sudah bergerak di bidang tersebut, namun ada beberapa orang seperti ini yang tidak nyaman dengan orangtua/keluarganya. Lingkungan tinggal juga mendukungnya untuk menjadi seperti itu. Orang-orang semacam itu biasanya mempunyai kemampuan lihai dalam berkamuflase.

“Remaja-remaja yang bergerak di bidang perdagangan manusi adalah remaja yang salah kaprah! Sebab itu sudah bisnis seks, remaja tidak seharusnya seperti itu! Remaja itu berprestasi, beraktivitas positif!” Kata Ibu Titik.

Katanya, ada LSM yang menyosialisasikan tentang kesehatan dan reproduksi (kespro) yang malah memberikan pandangan yang berbeda tentang seks! Kespro yang salah membuat remaja malah praktek untuk melakukan seks! “Harus ada pengawasan dari pemerintah setempat dan studi kelayakan, harus ada arah dan hasil!” ujarnya.

Sambung Ibu Titik, waktu anak tumbuh, orangtua mempunyai regulasi diri untuk mengatur dirinya, sehingga keluarnya di anak seperti itu. Anak juga harus mempunyai gambaran untuk bisa mengatur lini hidupnya sendiri! Hal itulah yang sebagian orang tua mengabaikannya, sehingga orangtua terkaget-kaget sewaktu si anak sudah dewasa, dan menjadi mudah terpengaruh ke arah human trafficking!

“Remaja juga harus mempunyai kepercayaan diri biar tidak terjerumus dalam hal seperti itu!” Kata psikolog yang satu ini. Pesan Ibu Titik, bagi remaja-remaja yang sudah terlanjur terjerumus ke dalam dunia perdagangan manusia ini, mereka harus direhabilitasi dan masuk dinas sosial. Di sana mereka diberi kegiatan-kegiatan positif dan kesadaran diri, diberi wawasan, maka pondok pesantren adalah salah satu alternatifnya. Jika tidak direhabitilasi, dia akan menjadi ahli di bidang tersebut.

Beberpa solusi dan saran ditawarkan Ibu Titik, adalah: Pertama, Orangtua pada awalnya mempunyai pemahaman tentang seks dari mulai anak berusia dini. Bagian tubuh mana yang boleh dipegang/diraba dan mana yang tidak boleh dipegang. Mata, mulut, vagina/penis dikatakan hal yang sama sehingga tidak memicu gejolak ketika besok mereka dewasa.

Kedua, Orangtua hendaknya peka terhadap setiap perilaku anaknya. Ketiga, Orangtua harus mendampingi anaknya sebagai sahabat.

Tulis Komentar Anda