Hiburan Editor : Agus Sigit Jumat, 07 Desember 2018 / 15:47 WIB

Tanpa Kritik, Film Seperti 'Sayur Tanpa Garam'

JAKARTA, KRJOGJA.com - Perfilman Indonesia berkembang setelah film "Kuldesak" dirilis paska mati suri film Indonesia. Seiring Perkembangan film,  muncul Kritik film. Tanpa kritik film,  tidak ada penimbang kualitas sebuah film. 

"Jadi, kritik bisa membuat kreatornya berinteraksi dengan pengkritik dan penonton filmnya. Seperti sayur tanpa garam. Tanpa kritik, film menjadi hambar," demikian dikatakan John de Rantau, selaku sutradara, ihwal gelaran Lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018, di Jakarta. Jumat (7/12).

John de Rantau yang juga merangkap sebagai anggota dewan juri Kritik Film, bersama Wina Armada, Bre Redana, Remy Sylado,  Dr. Maman Wijaya, Dr. Ekky Imanjaya, akhirnya memutuskan Ary Saptaji sebagai pemenang kategori Kritik Film. 

Dengan tulisan berjudul "Surat Terbuka Untuk Marlina", di film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, Ari mengalahkan 147 dari peserta dalam kategori ini. 

Ketua Dewan Juri Kritik Film Wina Armada mengatakan,  ada kesalahan mendasar pada hampir semua peserta kategori Kritik Film. Yaitu penggunaan bahasa Indonesia yang masih buruk. Serta terlalu banyaknya penggunaan bahasa asing,  yang tidak pada tempatnya.

"Lebih banyak yang menulis dengan menggunakan gaya bahasa milenial,  tanpa pemahaman bahasa Indonesia yang memadai, " kata Wina. 

Sedangkan untuk kategori Artikel Film, Dewan Juri Artikel Film 2018, yang beranggotakan Ilham Bintang ( Ketua) 
Benny Benke (Sekretaris), Lola Amaria, Yan Wijaya, Dimas Supriyanto, Sanggupri dan 
Doddy Budiatma, memilih nama Achmad Muchtar sebagai pemenang. 

Dengan tulisan berjudul "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak: Perempuan Menolak Kalah",  Muchtar menyisihkan 47 pesaingnya.

Dewan Juri Artikel Film mencatat terdapat kesalahan mendasar pada hampir seluruh artikel  peserta lomba. Pertama,  terdapat kelemahan  yang sangat mengganggu pada  penggunaan bahasa Indonesia yang belum mencapai taraf yang baik dan benar. Kelemahan itu termasuk pada  lima artikel unggulan pemenang (nominee) .

Kedua, terjadi inkonsistensi pilihan  topik artikel dengan pembahasannya. Ketiga, terlihat kemalasan penulis untuk mengupdate ( memperbarui) bahan dan data  untuk menguatkan argumentasi analisisnya. 

Dukungan data yang kurang memadai, untuk tidak mengatakan amat lemah mewarnai hampir semua artikel. Keempat,  naskah peserta didominasi kutipan- kutipan berbagai nara sumber yang terkadang kurang relevan dengan topik bahasan. 

Terlepas maupun terkait dengan kelemahan peserta Lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018,  Dr.  Maman Wijaya, selaku Kepala Pusbangfilm Kemendikbud RI, mengatakan peserta lomba Kritik Film dan Artikel Film 2018 membludak, dibandingkan gelaran serupa tahun lalu 

"Terkumpul 148 naskah kategori Kritik film dan 48 naskah Artikel Perfilman dari 65 film yang berbeda,  yang beredar selama setahun ke belakang," katanya. 

Dia menambahkan,  dari sisi kajian, kritiknya beragam. Tidak sekedar menyalin ulang. Tapi juga memberikan masukan kepada pembuatnya. "Hal ini sejalan dengan program Pusbangfilm Kemendikbud untuk turut memajukan Kritik film di Indonesia," kata Maman Wijaya.

Hal senada dikatakan Sekjen Kemendikbud, Didik Suhardi Ph.D. Menurut dia film sebagai produk budaya sarat dengan pesan di dalamnya. "Kemendikbud, sebagai Kementrian yang turut bertanggung jawab atas perkembangan perfilman, sangat concern pada ajang ini. Oleh karena itu, ajang Kritik Film ini menjadi penting dan strategis untuk meningkatkan kualitas perfilman Indonesia," pungkasnya. (sim)