DIY Editor : Ivan Aditya Jumat, 07 Desember 2018 / 12:34 WIB

Cetak Rekor Empat Kali Juara KRTI, Ini Pesawat-Pesawat Tim Gamaforce UGM

SLEMAN, KRJOGJA.com - Tim robot terbang UGM, Gamaforce kembali meraih juara umum di ajang Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2018 yang diselenggarakan di Universitas Teknokrat Indonesia Bandar Lampung 5-9 November 2018. Keempat tim Gamaforce yakni Khageswara, Gadjah Mada Fighting Copter, Rasayana dan Fiachra Aeromapper meraih prestasi terbaim yang kembali membawa UGM mencatat rekor sebagai juara umum untuk keempat kali berturut-turut.

Diky Agustian, Divisi Teknologi Development Khageswara kepada wartawan Jumat (07/12/2018) mengungkap timnya mengembangkan secara mandiri sistem avionik yang terdiri dari flight controller, ground control station dan antena tracking system. Menurut dia, Khageswara mengembangkan wahana Vtol Plane yang merupakan perpaduan antara chopter dan plane, teknologi ini kemudian membawa Khageswara meraih juara pertama Divisi Technology Development.

“Vtol Plane ini punya kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal tapi juga memiliki kemampuan terbang layaknya pesawat pada umumnya. Kami juga kembangkan flight controller yang bisa digunakan untuk beberapa jenis wahana yakni fixed wing, rotary wing, vtol plane dan antenna tracker,” ungkapnya.

Sub tim lainnya yakni Gadjah Mada Fighting Copter mampu mengembangkan wahana yang dirancang untuk menyelesaikan misi pick and drop survival kits. Wahana tersebut mampu mengangkut dan menjatuhkan muatan barang pada koordinat yang diinginkan.

“Kalau ada lokasi yang belum bisa diakses karena bencana, maka barang seperti survival kits bisa diantarkan dengan berat maksimal saat ini 2 kilogram. Wahana ini mampu menyelesaikan misi dalam waktu 10 menit dan sudah sangat siap apabila dikembangkan untuk situasi sebenarnya,” sambung Baskara, programmer image proscessing Gadjah Mada Fighting Chopter.

Sementara dua wahana lain yakni Rasayana dan Fiachra Aeromapper pun memiliki keunggulan yang cukup luar biasa. Rasayana mampu terbang dengan kecepatan 200 kilometer perjam dengan muatan berat sampai 500 gram yang dengan kata lain bisa dijadikan pesawat tanpa awak penyerang tiba-tiba untuk kemudian pergi dengan cepat.

“Sementara Fiachra Aeromapper bisa digunakan untuk monitoring dan mapping sebuah area dengan waktu terbang mencapai kurang dari 60 menit menggunakan baterai 10.000 mAh. Wahana ini mampu terbang stabil karena punya desain tailed atau berekor yang memungkinkan pesawat melakukan gerakan pitch, roll dan yaw,” tandas Eko Putra Wijaya, pilot fiachra aeromapper.

Dosen Pembimbing Andi Darmawan dari Elektronika dan Instrumentasi Gamaforce UGM menambahkan bahwa wahana yang dibuat timnya siap diaplikasikan untuk kehidupan masyarakat. “Kita tidak kalah, produk anak bangsa kita oke namun kadang masih belum dipercaya. Ini sangat bermanfaat dan bisa dihilirisasi bahwa produk mahasiswa ini membawa kontribusi bagi Indonesia,” ungkapnya. (Fxh)