DIY Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 07 Desember 2018 / 13:07 WIB

Donor Darah BPJS Ketenagakerjaan Kumpulkan 100 Kantong Darah

YOGYA, KRJOGJA.com - Aksi donor darah digelar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Jogja, Jumat (7/12). Aksi yang bekerjasama dengan PMI Sleman tersebut menargetkan 100 kantong darah untuk aksi kemanusiaan.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Jogja Ainul Kholid mengatakan aksi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) BPJS Ketenagakerjaan kepada masyarakat. Sebelumnya, instansinya mengadakan Pasar Murah (Pasrah) di halaman kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, pada Rabu (5/12). 

"Kegiatan pasar murah dan donor darah ini diadakan dalam rangka menyambut HUT BPJS Ketenagakerjaan ke-41 pada 5 Desember lalu. Ini sekaligus sebagai bentuk kepedulian kepada sesama," katanya di sela-sela aksi donor darah.

Dia menjelaskan, aksi donor darah tersebut diikuti oleh 120 pekerja perwakilan perusahaan, peserta dan karyawan BPJS Ketenagakerjaan. Ditargetkan, aksi tersebut mampu menyumbangkan 100 kantong darah kepada PMI Sleman. "Kebetulan yang waktunya bisa hanya PMI Sleman. Kami targetkan 100 kantong, kalau lebih itu lebih baik lagi," katanya.

Dikatakannya, program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan ada 4 (empat) program yaitu Jaminan Kecelakaaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun (JP). Lebih lanjut Ainul mengemukakan tidak hanya pekerja formal atau penerima upah yang bisa mendaftarkan proteksi dirinya, pekerja informal atau bukan penerima upah pun bisa menjadi peserta serta Pekerja Migran Indonesia. 

Dengan iuran bulanan Rp16.800 dengan asumsi upah Rp1juta, katanya, peserta informal mendapatkan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan dengan dua program dasar layak yaitu JKK dan JKM. BPJS Ketenagakerjaan akan memberikan perlindungan atas resiko-resiko kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerjanya.

"Jika peserta mengalami musibah kecelakaan kerja, seluruh biaya pengobatan dan perawatan di tanggung sesuai kebutuhan medis dan bila meninggal dunia biasa mendapatkan Rp24 juta," katanya. (*)