DIY Editor : Agus Sigit Kamis, 06 Desember 2018 / 14:47 WIB

BNI Dampingi Perajut Tas Pandak

PANDAK, KRJOGJA.com - Program pelatihan berbasis pasar tas rajut dinilai tepat meningkatkan daya saing produk di pasar global. Oleh karena itu, pelaku usaha kecil mesti mendapat pendampingan dari aspek permodalan, peningkatan kualitas hingga pemasaran. Dengan konsep tersebut, diharapakan kerajinan masyarakat bisa terserap pasar secara langsung. Untuk mewujudkan hal itu, Bank Negara Indonesia (BNI) bersinergi dengan Yayasan Sri Sasanti Indonesia dan CV Bhumi Cipta Mandiri menggulirkan  program  pemberdayaan perempuan di Kelurahan Desa Gilangharjo Pandak. Dalam acara itu juga dihadiri Lurah Gilangharjo Pandak Pardiyono, Kepala SMP 4 Pandak, Retno Yuliastuti, Indah Purwaningsih dari Astra.

Pemimpin BNI Sentra Kredit Kecil Yogyakarta Ign Arie Nugroho didampingi Wakil Pemimpin BNI Sentra Kredit Kecil Yogyakarta Yuli Pendriana mengatakan, sekarang ini baru berkembang industri kerajinan tangan berskala menengah dan kecil. Perkembangannya sangat pesat, dalam kurun tahun 2004 hingga 2010 setidaknya ada 10 hingga 13 ribu perempuan ambil bagian dalam industri tas rajut buatan tangan. Hal tersebut tentu jadi peluang kerja untuk menambah penghasilan keluarga. Banyaknya perajut  tentu membutuhkan pendampingan agar produknya  berdaya saing dipasar nasional dan internasional.

Oleh karena itu  BNI lewat BNI Sentra Kredit Kecil Yogyakarta didukung sejumlah pihak  mengulirkan  program pemberdayaan perempuan. Bentuknya dikemas dalam pelatihan bagi pengrajin tas rajut. Dijelaskan, sinergi tersebut merupakan bentuk komitmen BNI ikut meningkatkan kemampuan serta mengembangkan usaha kecil agar tangguh dan mandiri. Agar tercipta kemandirian pada sektor usaha kecil, BNI menggulirkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro dan kredit kemitraan. Program itu dinilai cocok mendorong usaha kecil cepat berkembang, karena mudah diakses. 

Program KUR mikro merupakan inisiasi pemerintah dengan bunga murah yakni 7 % per tahun. Sementara kredit kemitraan dari Kementerian BUMN berbunga 3% per tahun. "Per 30 November 2018 ini sedikitnya Rp 157 miliar kami salurkan untuk UMKM di DIY dengan jumlah nasabah mencapai 2000,- hingga 2500 orang.

Arie mengatakan, pelatihan itu pelaku usaha tidak lagi ragu untuk mengembangkan usahanya. Dari aspek permodalan, peningkatan kualitas dan pemasaran sudah didampingi. "Dengan pelatihan ini harapan kami muncul produk berkualitas yang berdayasaing tinggi," ujarnya. 

Sementara Direktur Eksekutif Yayasan Sri Sasanti Indonesia (YSSI) Retno Indrawati mengatakan, perajut diberikan bekal keterampilan teknis supaya produknya sesuai dengan permintaan pasar. "Selesai pelatihan ini, produk yang dihasilkan harus diserap pasar, ilmu yang didapat dari pelatihan harus termanfaatkan , "ujar Retno. 

Sementara itu  Managing Director Bhumi Indonesia Group, Agni Pratama mengatakan, bahwa untuk sekarang ini kebutuhan perajut memang sangat banyak. Jumlahnya mencapai 2.000 -3.000, orang agar mampu mengimbangi permintaan pasar. (Roy)