Ragam Editor : Agus Sigit Rabu, 05 Desember 2018 / 16:35 WIB

Hiii...Bu Guru TK Diajak Bermain Arwah Muridnya

BU Tiwi (nama samaran) Guru TK itu sudah tidak muda lagi. Namun tubuhnya masih sehat dan energik. Ia tinggal di sebuah rumah besar peninggalan almarhum suaminya, hanya berdua dengan Mbok Siwuh (juga nama samaran), rewang setianya. Sejak muda Ibu Guru TK tersebut dikenal sebagai sosok perempuan yang sangat dekat dengan anak kecil.

Suatu hari menjelang libur panjang, Bu Tiwi bersama sobat-sobat kecilnya mengadakan rekreasi ke sebuah objek wisata, menyewa bus kecil.

Malang, dalam perjalanan pulang, bus yang mereka tumpangi mendapat musibah. Bertabrakan dengan truk pengangkut pasir. Korban berjatuhan. Enam orang anak murid Bu Tiwi tidak dapat diselamatkan nyawanya.

Sejak peristiwa itu Bu Tiwi yang sebelumnya merupakan sosok periang, berubah menjadi pemurung. Suka duduk menyendiri dan melamun.

Seminggu kemudian, suatu sore hari Kamis menjelang malam Jumat Kliwon, tiba-tiba saja ada enam anak usia TK berbaris memutar dengan riang, mengelilingi duduknya. Bu Tiwi kaget, namun juga gembira. Spontan dia bangkit dari kursi dan ikut berbaris di belakang anak-anak tersebut. Tidak lupa dengan bernyanyi dan bertepuk tangan.

“Naik-naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali….” Begitulah, rumah yang semula sepi, dan selalu lengang, berubah menjadi riuh penuh gelak tawa.

Tidak puas hanya bernyanyi-nyanyi, anak-anak kecil itu juga mengajak bermain petak umpet, bola bekel, sondah- mandah, dan lompat tali. Seakan tidak puas dan tidak merasa capek, anak-anak tersebut tiada berhenti terus saja mengajak Bu Tiwi untuk bermain dan bermain.

Mbok Siwuh terheran-heran memperhatikan majikannya. Dia melihat Bu Tiwi sejak tadi sore bernyanyi-nyanyi, bertepuk tangan, berbaris, kadang berlompatan, sendiri. Tidak ubahnya seperti Guru TK yang sedang bermain dengan muridnya. Akhirnya Mbok Siwuh pun memberanikan diri untuk menegurnya.

“Sampun jam sanga langkung, Bu. Mangga dhahar rumiyin,” ujar Mbok Siwuh. Bu Tiwi kaget. Bersamaan dengan itu enam bocah ‘sobat kecil’- nya hilang dari pengelihatannya. Suasana kembali seperti semula, sepi, sendiri. Namun hati Ibu Guru tersebut hepi. Bu Tiwi pun mengajak Mbok Siwuh untuk bersama-sama berdoa. Memohon agar Gusti Allah memberikan tempat yang sebaik-baiknya untuk ‘sobat-sobat kecil’- nya. (Andreas Seta RD)