DIY Editor : Ivan Aditya Selasa, 04 Desember 2018 / 11:09 WIB

16 Desa di Gunungkidul Rawan Tsunami

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Seluruh desa di kawasan pesisir selatan Kabupaten Gunungkidul dinyatakan sebagai daerah rawan bencana tsunami. Bentang pantai yang ada cukup panjang mencapai 73 kilometer dan merupakan area tingkat kerawanan bencana tsunami paling rawan di DIY.

“Untuk mengantisipasi terjadinya tsunami, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul bekerja sama dengan berbagai lintas termasuk BPBD DIY, LSM, perguruan tinggi kita lakukan simulasi dan evaluasi untuk desa tangguh bencana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Drs Edy Basuki MSi.

Khusus di Kabupaten Gunungkidul telah ditetapkan sebanyak 16 desa rawan tsunami meliputi Desa Giricahyo, Desa Girijati, Giripurwo, Girikarto, Giriwungu (Kecamatan Panggang). Untuk Kecamatan Saptosari ada 2 Desa Krambilsawit dan Kanigoro.

Sementara di Kecamatan Tanjungsari meliputi Desa Kemadang, Banjarejo dan Desa Ngestirejo. Kecamatan Tepus Desa Sidoharjo, Tepus dan Desa Purwodadi. Kemudian Kecamatan Girisubo Desa Jepitu, Pucung, dan Desa Songbanyu.

“Selain melakukan upaya antisipasi termasuk di antaranya menggelar sejumlah simulasi bencana tsunami dan alat peringatan dini,” imbuhnya.

Kawasan pesisir Gunungkidul memang tidak seluruhnya merupakan kawasan permukiman. Warga hanya sekadar beraktivitas di kawasan pantai atau melaut dan kemudian pulang ke rumahnya yang berada cukup jauh dari kawasan pesisir.

Meski demikian, segala kemungkinan harus diminimalisir. Sosialisasi mengenai kebencanaan disosialisasikan kepada masyarakat agar jika terjadi bencana tsunami bisa terhindar.

Meskipun kawasan pesisir memiliki luas dan panjangnya mencapai hampir 80 kilometer, tetapi pihaknya tidak khawatir secara berlebihan karena dari sisi geografis, desa-desa di Gunungkidul bukan merupakan daerah pesisir yang landai. Banyak kawasan perbukitan kapur yang tinggi sedangkan permukiman penduduk juga cukup jauh dari kawasan pantai.

Beberapa kali wilayah pantai terjadi peningkatan gelombang laut tetapi hingga kini belum pernah terjadi dampak gelombang tinggi merusak permukiman. Karena memang jarak dari pantai ke kawasan permukiman cukup jauh dan terhalang kawasan Pegunungan Seribu.

Warga kawasan pesisir selatan sudah terlatih dan sejak ditetapkan sebagai desa tangguh bencana mereka terus meningkatkan kewaspadaan,” terangnya. (Bmp)