Olahraga Editor : Agus Sigit Senin, 03 Desember 2018 / 12:35 WIB

Jalan Terjal PSS Capai Final, Dari Dugaan Pengaturan Skor Hingga Rekor Penonton Terbanyak

SLEMAN, KRJOGJA.com - Selasa (4/12/2018) besok, PSS menapaki partai final Liga 2 2018 melawan Semen Padang FC. Perjalanan PSS di musim kompetisi Liga 2 2018 begitu berliku sebelum akhirnya memastikan satu tiket di kasta tertinggi Liga Indonesia musim 2019 mendatang. 

KRjogja.com berusaha merangkum catatan-catatan penting yang dilalui PSS selama musim kompetisi 2018 sejak awal hingga menjadi finalis. Berikut fakta-fakta yang terjadi sepanjang musim kompetisi tahun 2018 kali ini. 

1. Ditangani Herry Kiswanto Pada Awal Liga 
Sosok Herry Kiswanto (Herkis) tak bisa dilepaskan dari PSS mengingat sosok pelatih tersebut juga menukangi tim di tahun 2014, saat insiden buruk ‘Sepakbola Gajah’ terjadi. Herkis dipilih manajemen karena dinilai punya program jelas untuk membawa PSS meraih tiket promosi. 

Di bawah Herkis di pra musim, PSS sempat mengangkat piala Copa Sleman yang dibuat sebagai turnamen pemanasan sebelum liga. Nun begitu, perjalanan Herkis sebenarnya cukup berperan karena mampu membentuk krakter permainan PSS meski tidak sedikit yang mencibir karena gaya permainan yang dibawakan PSS sedikit monoton. 

2. Bongkar Muat Skuad dan Arsitek
Beberapa pertandingan berjalan, permainan PSS dinilai manajemen dan suporter tak berkembang. Manajemen pun akhirnya meminta Herkis mundur beberapa saat sebelum putaran pertama usai yang kemudian digantikan sementara asisten pelatih Seto Nurdiantoro. Kak Seto pula yang kemudian menukangi PSS hingga melaju ke final besok. 

Manajemen PSS di pertengahan musim membuat kejutan dengan mencoret beberapa pemain termasuk sang kapten, Ahmad Hisyam Tolle, bek Yudi Khoerudin dan Syamsul Chaerudin. Bongkar muat skuad pun dimulai dengan mendatangkan tenaga baru seperti Rian Miziar hingga Amarzukih termasuk El Loco Gonzales yang akhirnya bisa dimainkan secara reguler. 

Pun begitu tampaknya Kak Seto belum puas karena masalah jendral lapangan lini tengah belum terjawab. Saat memastikan lolos delapan besar, nama-nama besar didatangkan seperti Busari, Qischil Gandrum, Ikhwan Ciptadi, Asyraq Gufron hingga Rossi Noprihanis dan Hendika Arga Permana. 

Di masa ini, Hendika Arga Permana yang sebenarnya telah mendapatkan lampu hijau peminjaman dari saudara tua, PSIM akhirnya urung bermain bagi PSS. Alasan pribadi yang belum terungkap hingga saat ini malah akhirnya membuat eks kapten PSIM tersebut pensiun dari dunia sepakbola profesional. 

3. Dugaan Pengaturan Pertandingan 
Perjalanan PSS tahun ini memang tak bisa dilepaskan dari dugaan pengaturan pertandingan di sepanjang musim. Mulai angkat bicarannya manajer Madura FC dalam sebuah acara live televisi yang diminta mengalah di laga awal musim hingga gol offside dua meter yang terjadi di babak delapan besar. 

Fakta-fakta tersebut menjadi perbincangan hangat di sosial media dan mendapat perhatian begitu besar dari warganet. Muncul nama Vigit Waluyo (VW) sebagai aktor utama pengaturan pertandingan yang menaungi beberapa tim di delapan besar Liga 2 termasuk diantaranya PSS, terlebih sulit dipisahkan karena VW adalah mertua Danilo Fernando asisten pelatih PSS. Meski begitu, manajemen PSS dengan tegas menolak adanya dugaan tersebut. 

4. Catatkan Penonton Terbanyak di Liga 2 
Setiap laga home, panitia pelaksana pertandingan PSS hampir selalu mencetak 27 ribu lembar tiket yang juga 80 persen diantaranya selalu habis terjual. Di semifinal kedua melawan Kalteng Putra bahkan 30 ribu lembar tiket yang dijual dalam sehari ludes terjual hingga Stadion Maguwoharjo penuh sesak. 

Penpel pun harus menyiapkan layar besar di salah satu sisi luar stadion untuk mengakomodasi penonton yang tak bisa masuk stadion. Tak heran bila kemudian PSS dinobatkan sebagai klub dengan penonton terbanyak di sepanjang penyelenggaraan Liga 2 tahun ini. 

Di laga semifinal kedua tersebut bisa saja menjadi rekor penonton terbanyak di Liga 2 musim ini melebihi partai final di Stadion Pakansari Cibinong esok hari. Pasalnya Panpel final hanya mencetak 21 ribu lembar tiket yang artinya tak lebih banyak dari laga semifinal kedua di Maguwoharjo. (*)