DIY Editor : Danar Widiyanto Rabu, 28 November 2018 / 12:10 WIB

Volume Kubah Lava Masih Kecil, Warga Jangan Panik

YOGYA, KRJOGJA.com - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengimbau mereka masyarakat di sekitar lereng Gunung Merapi memantau perkembangan informasi terkini terkait dengan kondisi Gunung Merapi yang disampaikan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta. 

"Saya kira masyarakat di Kawasan Gunung Merapi sudah mengetahui langkah atau tindakan apa yang perlu dilakukan. Hal itu dikarenakan mereka sudah tahu momentumnya dan bagaimana harus bersikap. Jadi saya minta mereka tetap tenang tentunya dengan tetap memantau informasi dan perkembangan terkini terkait kondisi Merapi," kata Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kompleks Kepatihan, Selasa (27/11/2018). 

Sultan mengungkapkan,  Gunung Merapi termasuk salah satu gunung yang aktif, jadi adanya peningkatan aktivitas yang saat ini terjadi masih masuk dalam kategori wajar. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal di kawasan tersebut, pasti sudah memahami betul tentang kondisi Merapi. Karena sudah akrab dengan kondisi Gunung Merapi jadi mereka sudah tahu momentum (waktu) terkait tindakan apa yang harus dilakukan. Masyarakat di lereng Gunung Merapi tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Seakan tidak terpengaruh terpengaruh dengan peningkatan aktivitas Gunung Merapi.

Seperti yang diungkapkan Kepala Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Sleman, Heri Suprapto. Menurutnya, warga lereng Gunung Merapi sudah dibekali tentang motigasi bencana. Jadi mereka sudah tahu, apa yang harus dilakukan ketika benar-benar terjadi erupsi.

"Apalagi sekarang levelnya juga masih waspada. Jadi, masyarakat masih beraktivitas seperti biasa. Mungkin jika levelnya naik ke III, baru kita akan geser. Namun tetap menunggu instruksi dari pemerintah," ungkapnya.

Terpisah, Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Dr Agus Budi Santoso, mengungkapkan kawah Merapi menyediakan ruang bagi material kubah lava hingga 10 juta m3. Adapun volume kubah lava saat ini baru 308.000 m3 dengan laju petumbuhan sekitar 3.000 m3/hari.

Kubah lava Merapi 2018 muncul tepat di tengah rekahan kubah lava 2010 dan tumbuh secara simetris. Dengan kondisi seperti ini maka pertumbuhan kubah lava bisa optimal memenuhi ruang kawah yang tersedia.

"Seberapa cepat kubah lava akan longsor menjadi awan panas sangat tergantung posisi dan model pertumbuhannya. Kalau posisinya pas di tengah kawah dan simetris tentu akan lebih optimal menampung banyak material dan lebih lama bertahan," terang Agus Budi kepada KR, Selasa (27/11/2018).

Mengenai jarak luncur awan panas, BPPTKG sudah membuat pemodelan. Agus Budi mengatakan, jika sebagian besar volume material kubah lava saat ini (308.000 m3) runtuh, maka awan panas dapat meluncur ke arah Kali Gendol sejauh 2,2 km (< 3 km). Terjadinya awan panas itu dengan asumsi kondisi kubah lava sudah tidak stabil. "Dari pemodelan tersebut, maka rekomendasi jarak aman di atas 3 km dari puncak masih valid," katanya.

Sedangkan untuk mencapai jarak luncur lebih dari 3 km, maka dibutuhkan volume kubah lava sebanyak dua kali volume sekarang atau 600.000 m3. Itupun juga kalau kondisi kubah lava tidak stabil. "Kalau kondisi kubah lavanya stabil, ya tidak ada material yang longsor menjadi awan panas," katanya. Menurut Agus Budi, kondisi kubah lava saat ini dalam keadaan stabil. (Ria/Dev/Awh)