Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 12 November 2018 / 19:50 WIB

Warga Pegunungan Dilarang Menanam Hidroponik, Ini Alasannya

KEBUMEN KRJOGJA.com - Selama musim hujan, warga pegunungan atau dataran tinggi dihimbau untuk tak menanam tanaman hidroponik, karena menimbulkan kerawanan  datangnya tanah longsor di sekitar lokasi tanaman.

" Tanaman hidroponik yang kami maksud adalah jenis tanaman herba maupun sayur  yang perakarannya tak bisa menahan laju air. Contohnya sawi dan jenis herba lainnya," jelas Kepala Stasiun Geofisika Badan Metereologi  Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah, Haryanta, dalam Rakor Antisipasi Musim Hujan  2018 - 2019 Kabupaten Kebumen, Senin (12/11/2018).

Dalam rakor di Kompleks Rumah Dinas Bupati Kebumen tersebut Haryanta memaparkan  berbagai langkah antisipasi menghadapi musim hujan 2018 - 2019 di Kebumen.  Mengingat, berdasarkan prakiraan BMKG selama periode November 2018 hingga  Januari 2019, hujan di Kebumen akan berfrekuensi dan bercurah tinggi." Selama tiga bulan itu curah hujan rata-rata lebih dari 300 milimeter," jelas Haryanta.

Selain itu, kawasan pegunungan di Kebumen seperti Sadang, Karangsambung, Alian, Karanggayam, Padureso, Rowokele dan Ayah merupakan wilayah bercurah  hujan tinggi yang rawan bencana longsor. " Jadi kami ingatkan warga di dataran tinggi ini tak menanam tanaman hidroponik karena bisa memicu longsor di sekitarnya," ujar Haryanta.

Seandainya petani tak bisa meninggalkan penanaman tanaman hidroponik, Haryanta menganjurkan agar dilakukan pembuatan terasering atau sengkedan pada lahan  tanaman. (Dwi)