Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Jumat, 09 November 2018 / 19:51 WIB

PENYERAHAN SUMBANGAN PEMBACA 'KR' DI DONGGALA

Kampung Nelayan Tompe Ambles, Rumah Terendam

DONGGALA, KRJOGJA.com - Kampung nelayan di Dusun 3 Kelurahan Tompe Kecamatan Sirenja Donggala memang tidak terkena tsunami, tetapi karena dampak gempa 28 September lalu, tanah pemukiman warga ambles sehingga air masuk ke rumah-rumah. 

"Jadi rumah-rumah di sini pertama rusak karena gempa, kedua kemasukan air laut. Sampai saat serial air laut pasang pasti menggenangi bekas dusun kami," kata Aswad, Ketua BPD Tompe yang juga warga Dusun 3 saat KR menyerahkan bantuan beras 750 kg, gula pasir 150 kg dan minyak goreng 150 liter. 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Usai penyerahan bantuan, Aswad yang sehari-hari menjadi nelayan mengajak ke lokasi.  Di situ terlihat kawasan bekas perkampungan yang tinggal puing-puing  bangunan atau sebagian tembok yang masih berdiri. Semakin mendekati pantai, terlihat pondasi setinggi 30 cm yang memanjang. 

"Ini tanggul. Dulu tingginya dua meter. Sekarang sudah ambles. Sedang pantainya dulu masih ke sana lagi.  Dulu hanya kalau sedang pasang saja air sampai situ. Sekarang kalau air pasang sampai bekas dusun kami ini. Tingginya bisa satu meter lebih, " kata Aswad sambil menunjukkan batas batas sebuah tembok. 

Karena rumah 215 KK Dusun 3 it rusak semuanya, saat ini mereka mengungsi di Dusun 2, sekitar 500 meter dari laut. sebelumnya mereka mengungsi di tenda-tenda berbagai tempat. Sedang sekarang tinggal di rumah sementar atau huntara di pekarangan warga Dusun 2. 

Huntara dibangun secara gotong-royong. Bahannya dari seng-seng bekas atap rumah-rumah di Dusun 3. Seng tersebut bukan hanya untuk atap huntara, tetapi juga untuk dinding. Karena itu di Dusun 2 bertebaran rumah-rumah seng kecil-kecil. "Bukan hanya seng yang dari bekas rumah mas, tetapi juga kayu bahkan paku-pakunya yang dicabuti kemudian dipakai lagi," tambah Alan, pemuda setempat. 

Aswad juga menjelaskan, mayoritas warga mempunyai pencaharian sebagai nelayan. Namun akibat air pasang dan dusun ambles, perahu-perahu mereka jadi rusak atau hilang. Jumlah perahu mencapai 200an karena sejumlah nelayan mempunyai dua perahu. "Kalau saya cuma punya satu perahu, tetapi sudah hilang entah di mana sekarang, termasuk mesinnya," kata Aswad. 

Meski demikian masih ada sekitar 10 perahu yang selamat. Oleh pemiliknya kini sudah digunakan untuk melaut lagi. (Fie)