Ragam Editor : Agus Sigit Jumat, 09 November 2018 / 14:36 WIB

Apess..Sudah Nuntun Motor, Masih Dinunuti Penghuni Makam Tua

WARGA lereng Gunung Merapi banyak yang menjadi peternak sapi perah. Salah satunya adalah Pak Raji, bukan nama sebenarnya. Kandang sapi Pak Raji letaknya jauh dari rumah tempat tinggalnya. Untuk sampai ke kandang, Pak Raji harus melewati dua makam tua yang dikenal wingit.

Suatu hari, Pak Raji kemalaman saat memberi makan sapinya, sehingga ia tidak sempat memerah susu. Selesai menaruh rumput di kandang, Pak Raji pun berniat langsung pulang. Tapi ia merasakan ada keanehan ketika menginjak engkol stater, karena rasanya sangat berat. Bahkan mesin motor bututnya tidak mau menyala, sekalipun sudah berulang kali diengkol.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Padahal biasanya motor Pak Raji tidak pernah rewel. Engkol staternya juga sangat ringan. “Nasib nasib, sudah kemalaman, motor ikut rewel,” keluh Pak Raji.

Akhirnya diputuskan untuk menuntun saja motornya. Tapi lagi-lagi Pak Raji dibuat terheran-heran, karena motornya terasa sangat berat. Meski hanya dituntun, beratnya minta ampun, seperti ada yang mbonceng saja. Bulu kuduk Pak Raji pun berdiri dan ia mempercepat langkahnya dalam menuntun motor. Apalagi ia merasakan udara terasa semakin dingin.

Sampai beberapa langkah, Pak Raji terkejut. Melalui kaca spion, selintas ia melihat ada bayangan laki-laki tua yang duduk di jok bagian belakang motornya.

“Hee…turun, berat tahuuu…!” bentak Pak Raji sambil menengok ke belakang.
Tapi ternyata tidak ada orang di jok motornya. Pak Raji clingak-clinguk, tidak kelihatan ada orang. Hanya suasana gelap di sekitar yang dilihatnya.

Kembali Pak Raji melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini ia merasakan ada bau kemenyan. Saat melirik melalui kaca spion, dilihatnya ada asap rokok yang mengepul. Pak Raji pun mempercepat langkahnya, sekalipun sebenarnya terasa sangat berat.

Sampai di makam berikutnya, Pak Raji menghentikan langkahnya karena kelelahan. Tiba-tiba ia mendengar ada suara orang bicara. “Hi hi hi, saya hanya nunut mbonceng sampai di rumahku sini saja. Matur nuwun.”
Suara itu membuat tubuh Pak Raji menggigil dan segera mendorong motornya. Aneh, kali ini motornya terasa ringan. Setelah berjalan setengah berlari agak jauh dari kuburan, Pak Raji berhenti dan iseng-iseng mencoba mengengkol stater. Eee…ternyata langsung menyala. Pak Raji pun tancap gas buru-buru ingin segera sampai di rumah. “Slamet…slamet,” kata Pak Raji dalam hati. (Jimat P/harianmerapi.com)