DIY Editor : Ivan Aditya Kamis, 08 November 2018 / 20:32 WIB

UGM Darurat Kekerasan Seksual

SLEMAN, KRJOGJA.com - Puluhan mahasiswa UGM yang berkumpul di Taman San Siro FISIPOL untuk menggelar aksi damai, Kamis (08/11/2018) siang. Mereka membubuhkan tanda tangan, NIM dan membunyikan kentongan untuk menyampaikan dukungan penuntasan kasus kekerasan seksual yang ramai mencuat beberapa hari terakhir.

Aksi tersebut ternyata mendapat dukungan dari banyak pihak yang menyampaikan empati secara langsung atas kasus kekerasan seksual pada mahasiswi FISIPOL UGM, Agni (bukan nama sebenarnya). Agni mendapatkan kekerasan seksual saat menjalani KKN di Pulau Seran Maluku Juni 2017 lalu oleh teman satu kelompok yang ternyata adalah mahasiswa Fakultas Teknik.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Dekan FISIPOL UGM Erwan Agus Purwanto pun menjadi salah satu sosok yang berdiri diantara para mahasiswa siang itu. Ia merasa perlu memberikan dukungan pada Agni sebagai wujud harapan penuntasan kasus tersebut secara tuntas.

“Kami apresiasi mahasiswa baik dari Fisipol maupun fakultas lain bahkan alumni yang mendukung penuntasan kasus ini karena Fisipol sejak akhir 2017 telah berkirim surat tegas pada Universitas untuk menindak tegas kasus yang menimpa mahasiswi kami. Mari kita kawal hingga kasus ini diselesaikan pimpinan universitas,” ungkapnya.

Diakui Erwan, pihaknya terus melakukan koordinasi bersama pihak pimpinan universitas hingga muncul rumusan draft langkah yang akan diambil. “Dua hari terakhir kami komunikasi dengan universitas baik rektor maupun wakil rektor dan pimpinan LPM, tim investigasi termasuk dekan FT dan kemarin sore sudah dirumuskan draft langkah yang akan diambil pimpinan universitas. Usulan Fisipol lebih menjelaskan kronologis dan menuntut universitas untuk menuntaskan. Dalam arti mengumpulkan data dari pihak terkait dan memutuskan berdasarkan rekomendasi tim investigasi gabungan dari Fisipol, Teknik dan Fakultas Psikologi yang punya kompetensi pada kasus ini,” sambung dia.

FISIPOL menurut Erwan juga memberikan pendampingan pada penyintas termasuk dukungan untuk menyelesaikan studi tepat waktu. “Secara internal kami ada tim psikologi yang sejak awal mendampingi penyintas. Kami juga koordinasi dengan departemen dan pembimbung skripsi agar didukung karena kondisinya up and down,” ungkapnya lagi.

Sementara terkait langkah agar kasus serupa tak terjadi lagi, Erwan mengungkap bahwa FISIPOL terus melakukan sosialisasi konkrit melalui selebaran dan juga materi dalam penerimaan mahasiswa baru. “Peraturan rektor sudah ada, kami implementasikan di tingkat fakultas, kami terus jelaskan seksual harassment. Kami tidak ingin kejadian serupa terulang lagi,” pungkas Erwan.

Pihak rektorat UGM melalui rektor, Prof Panut Mulyono mengatakan pihaknya tetap akan mengedepankan pendekatan akademis dalam menyelesaikan kasus tersebut. Pasalnya baik pelaku maupun penyintas sama-sama mahasiswa UGM yang masih memiliki peluang meraih masa depan cerah.

“Karena dua-duanya anak kami, kami ingin menyelesaikan dengan pola-pola yang mendidik. Kami ingin keduanya mendapatkan pelajaran tapi tidak ada yang dihancurkan. Pada korban, penyintas ini kami sampaikan simpati setinggi-tingginya, maka itu kami upayakan keadilan yang seadil-adilnya. Kami yakin kesalahan itu bisa diberikan sanksi yang setimpal, saya yakin anak muda ini masih bisa dibangun karakternya agar kedepan bisa bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara,” tandas Panut. (Fxh)