Jateng Editor : Ivan Aditya Kamis, 08 November 2018 / 19:36 WIB

Tribun Stadion Ambruk, Konsultan Pastikan Material Susuai Standar

KUDUS, KRJOGJA.com - Penyebab ambruknya rangka dan atap galvalum tribun utara Stadion Wergu Wetan Kudus beberapa hari lalu, masih menimbulkan tanda tanya. Peristiwa yang terjadi saat hujan deras dengan tiupan angin kencang akibat force majeur atau karena kualitas material bangunan yang tidak mendukung, masih menunggu hasil penyelidikan.

Tim investigasi telah dibentuk pemerintah kabupaten (pemkab), terdiri dari penyelenggara kegiatan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora), tim teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Bagian Perekonomian dan Administrasi Pembangunan serta melibatkan ahli dari akademisi. Rencana penyelidikan juga menghadirkan konsultan perencana, konsultan pengawas dan pelaksana kegiatan.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Peningkatan Infrastruktur melalui Rehabilitasi Stadion Wergu Wetan, Harjuno Widodo mengatakan, hingga saat ini belum ada kajian komprehensif untuk menjelaskan penyebab ambruknya atap tribun utara stadion paska diterjang angin kencang, Selasa (06/11/2018) sore.

Kegiatan pembangunan dua sisi tribun utara dan selatan, masih berlangsung hinga akhir November 2018. Hanya untuk melanjutkan perbaikan atap yang roboh, masih menunggu hasil penyelidikan.

Pihaknya belum dapat memastikan, apakah akan dilanjutkan sebelum tahun anggaran , masih menunggu keputusan tim. “Semuanya harus melalui prosedur dan aturan main yang berlaku,” katanya, Kamis (08/11/2018).

Supervisor engineer atau konsultan pengawas pembangunan stadion dari CV Adyapola, Zufikri Ali Rahman menyatakan, semua material bangunan  seperti, besi beton, rangka dan galvalum sudah sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) yang dipersyaratkan dalam dokumen lelang. “Semua sudah sesuai dimensi, ukuran, dan spesifikasi yang dipersyaratkan,” ungkapnya.

Terkait kerugian atas ambruknya rangka dan atap galvalum, diperkirakan mencapai Rp 300 juta. Estimasi kerugian dihitung dari penyiapan material dan proses pemasangan atap sepanjang 74 meter dan lebar 14 meter. (Trq)