Gaya Hidup Editor : Danar Widiyanto Kamis, 08 November 2018 / 23:11 WIB

Terhindar dari Risiko Sakit di Tanah Suci, Istitah Kuncinya

KEPALA Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr dr Eka Jusup Singka MSc, meyakini, jika bunyi Rukun Islam kelima yang kita kenal selama ini diperjelas seperti 'naik haji jika Istita'ah', besar kemungkinan tidak akan ada masyarakat yang bersikeras berangkat ke Arab Saudi saat kondisinya tidak memungkikan.

Istita'ah secara umum memiliki arti mampu. Namun, arti Istita'ah di sini, melihat kemampuan seseorang untuk melaksanakan ibadah haji tidak hanya dari sisi ekonomi, melainkan juga ditinjau dari jasmani, rohani, dan keamanan.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

"Istita'ah itu sebenarnya bahasa Arab yang artinya capability atau kemampuan. Kemampuan seseorang bisa menunaikan ibadah haji dari aspek kesehatannya," kata Eka Jusuf pada acara The 5th Global Health Security Agenda (GHSA) di Bali Nusa Dua Convention Center 2, Rabu (7/11/2018).

Eka Jusuf mengatakan pemakaian istilah ini sudah booming dari 2016, dan mendapat respons positif di masyarakat.

Indonesia adalah penyumbang jemaah haji terbesar di dunia. Menurut Eka Jusuf, hanya Indonesia yang mampu mengirimkan 221 ribu orang ke Arab Saudi guna menunaikan Rukun Islam yang kelima setiap tahunnya.

Meski begitu, penularan penyakit seperti MERS-CoV dan Colera yang beberapa tahun lalu dianggap sebagai ancaman, pun lebih besar risikonya melalui jemaah haji asal Indonesia.

"Ditambah Umrah sebanyak 1 juta orang setiap tahun, sehingga memiliki potensi adanya proses penularan penyakit atau penyakit-penyakit yang terbawa dari Saudi ke Indonesia," kata Eka Jusuf.(*)