Peristiwa Editor : Danar Widiyanto Kamis, 08 November 2018 / 22:10 WIB

Organisasi Nirlaba di Indonesia Rentan Disusupi Teroris, Kok Bisa?

AUSTRALIA, KRJOGJA.com - Menurut Badan Intelijen Keuangan Australia, AUSTRAC, organisasi nirlaba atau non-profit organization (NPO)yang beroperasi di Australia dan di seluruh Asia Tenggara rentan terhadap infiltrasi dan eksploitasi teroris. Indonesia dinilai yang paling rentan disusupi.

Dalam laporan pertamanya tentang masalah ini, AUSTRAC - Pusat Laporan & Analisa Transaksi Australia - mengatakan bahwa hubungan antara kelompok teroris dan NPO di Australia sudah teridentifikasi.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

"Australia telah mengidentifikasi dugaan hubungan antara NPO dan kelompok teroris asing, terutama ISIS dan afiliasinya," kata AUSTRAC, seperti dikutip dari ABC Indonesia, Kamis (8/11/2018).

AUSTRAC mengklasifikasikan risiko terhadap NPO Australia berada di tingkat "menengah", menempatkannya pada tingkat yang sama dengan Filipina, Malaysia dan Thailand.

Indonesia dinilai sebagai negara dengan ancaman tertinggi di kawasan ini, sementara Selandia Baru memiliki peringkat keseluruhan terendah.

"Individu-individu radikal di Australia yang terkait dengan ekstremisme brutal mungkin terkait secara longgar dengan sejumlah kecil NPO, tetapi tidak mungkin NPO mendanai atau mendukung kegiatan teroris domestik," kata AUSTRAC.

Laporan berjudul "Not for Profit Red Flags Report" dirilis pada Konferensi Penanggulangan Pencemaran Terorisme yang diadakan di Bangkok dan dihadiri oleh unit-unit intelijen keuangan (FIU) dari seluruh kawasan.

AUSTRAC mengatakan meski hubungan NPO dengan kelompok teroris domestik, regional dan internasional bervariasi di berbagai negara regional dan sulit untuk ditentukan, hubungan mereka dengan kelompok ISIS - baik yang terilhami maupun diarahkan - terdeteksi atau dicurigai dalam beberapa kasus.

"NPO adalah korban penyalahgunaan, bukan dibentuk sebagai NPO pura-pura atau palsu untuk tujuan pendanaan terorisme. Dalam beberapa kasus, teroris atau pendukung mereka telah menyusup atau memanipulasi NPO," kata AUSTRAC.(*)