DIY Editor : Danar Widiyanto Minggu, 04 November 2018 / 10:30 WIB

Anak TKI Belum Tersentuh Pendidikan, Guru Dikirim ke Malaysia

KINABALU, KRJOGJA.com - Guna menjamin terpenuhinya hak-hak anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, Pemerintah mengirimkan sebanyak 95 dari 100 guru terpilih ke Malaysia. Mereka akan ditempatkan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang tersebar di wilayah Sabah dan Sarawak.  

Pengiriman guru ini dilakukan pada Kamis-Jumat, 1-2 November 2018. Sisanya akan diberangkatkan ke Kuching Malaysia, setelah perizinan rampung. Hingga saat ini terdapat 294 PKBM di Malaysia dengan rincian 155 jenjang SD dan 139 jenjang SMP.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy berpesan, para guru harus proaktif mencari siswa bagi PKBM karena kondisi di sana jauh berbeda dengan kondisi sekolah di kota-kota besar di Indonesia.

"Ini tanggung jawab yang besar dalam membawa nama Indonesia sekaligus pengabdian. Anda (sebagai guru) adalah wajah dari negara Indonesia yang akan berada di Malaysia," ujar Mendikbud Muhadjir.

Mendikbud mengungkapkan, saat ini masih ada sekitar 100 ribu anak TKI yang belum terlayani pendidikannya. "Kita (Pemerintah) baru bisa melayani sekitar 28 ribu, sekarang mau dinaikkan sampai 50 ribu targetnya," tutur mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Kemendibud, Praptono, mengatakan kegiatan belajar mengajar di lokasi penempatan harus tetap berjalan meskipun pendukung delapan standar nasional pendidikan tidak tersedia sepenuhnya. Sarana prasarana yang terbatas, kelebihan jam kerja dan lainnya menjadi tantangan yang harus dipecahkan para guru.

"Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa terlayani pendidikannya dan meraih masa depan yang lebih baik sehingga melalui pendidikan akan memutus rantai kemiskinan dan kebodohan," ucapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan, Diah Rizki Hutaminingsih, guru yang pernah bertugas di Malaysia. Menurutnya, anak-anak Indonesia di Malaysia sebenarnya memiliki potensi yang besar, hanya saja kesempatan mereka memperoleh pendidikan belum sepenuhnya ada. “Semoga anak-anak Indonesia di Malaysia bisa kembali ke Indonesia menjadi individu yang bermartabat bagi negaranya,” kata Diah.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Kota Kinabalu Malaysia, Khrisna Djelani, menjelaskan hampir seluruh anak-anak Indonesia yang akan diajar guru-guru itu lahir dan tumbuh besar di Negeri Jiran. Selain itu, perbedaan usia dalam satu rombongan belajar sangat beragam atau tidak sesuai dengan usia di jenjang pendidikan yang seharusnya sehingga perlu lebih sabar. 

"Masyarakat setempat menganggap guru sebagai manusia super yang tahu segalanya. Jangan mudah putus asa, setidaknya bisa menjadi panutan," tuturnya.

Pengiriman guru ke Malaysia ini merupakan yang ke-9 kalinya sejak 2006 lalu. Hingga saat ini sebanyak 290 guru Indonesia mengajar di 294 PKBM di Malaysia yang tersebar di wilayah Sabah dan Sarawak.(Ati)