Pendidikan Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 02 November 2018 / 10:36 WIB

Seminar Bela Negara di UIN Sunan Kalijaga

SLEMAN, KRJOGJA.com - Setelah berbagai kompetisi,  pentas seni-budaya dan pameran karya akademik digelar selama 3 hari, 27 s/d 29/10/18, Kamis, 1/11/18 dihelat Seminar Nasional bertajuk Pemuda dan Bela Negara, dilanjutkan diskusi panel. 

Pada pidato mengawali seminar nasional, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D.,  mengajak untuk bersyukur hidup di Negara Besar Indonesia yang memiliki  Pancasaila. Dengan Pancasila, Indonesia memiliki 7 prestasi  tingkat dunia yang tidak dimiliki negara manapun. Pertama, sebagai negara yang  terjajah selama 434 tahun, dimana Islam sebagai pendatang baru yang bisa menjadi mayoritas dan bisa menyatukan segala perbedaan, bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan yang akhirnya terwujud pada  Agustus 1945. Ini tidak terjadi di negara manapun.

Kedua, negara-negara besar Islam hancur pasca perang dunia I dan II.  Tetapi Indonesia , tanpa terlibat dalam negara super power manapun, tiba-tiba mampu melahirkan  negara yang lebih besar dengan segala kekayaannya.

Ketiga,  Amerika Serikat besar tetapi pecahan dari Inggris, Rusia besar tetapi pecahan Uni-Sovyet, India yang dulu merupakan negara besar di bawah Islam terpecah menjadi India dan Pakistan kemudian jadi Banglades, Malaysia ada karena dimerdekakan. Saudi Arabia mengkianati Otoman Imperium yang kemudian mandiri menjadi kerajaan bukan khilafah.  Sementara  kawasan Muslim terbesar di dunia yang ada di  Indonesia mampu merangkul semua perbedaan, menyatukan yang kecil-kecil untuk melahirkan negara yang lebih besar yakni NKRI, yang tidak ada tandingannya di dunia.

Keempat, nasionalisme dunia Islam mencabik-cabik  negara Islam dari negara-negara besar menjadi negara-negara kecil. Tetapi nasionalisme di Indonesia justru mampu menyatukan pluralitas dan umat Islam yang berlapis-lapis  menjadi terbesar di dunia, bahkan memiliki 17.000 sekian pulau.  Bahkan Generasi Rosulullah pun tak mampu melahirkannya.

Kelima, ketika dua negara superpower berperang dengan  senjata bom atom, yang menghancurkan negara-negara, tetapi Indonesia yang tidak memiliki teknologi apapun, justru mampu melahirkan negara besar dengan bermodal persatuan dan kesatuan  yang ada dalam sila Pancasila. Inilah kekuatan  Pancasila.

Keenam, kerajaan dan kesultanan  di Indonesia dengan suka rela menyerahkan kekuasaan dengan segala konsekuensi konstitusinya  demi berdirinya NKRI, ini tidak terjadi di belahan dunia manapun kecuali di Indonesia.  Ketujuh,  Lahirnya Pancasila dimotori oleh  ulama dan Kyai Muslim di Indonesia. Oleh karena itu Pancasila bisa disebut sebagai mukjizat dari Allah SWT untuk Indonesia. 

Karena itu Prof. Yudian mengajak segenap mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia yang hadir di forum ini untuk memahami bahwa seluruh umat Islam di Indonesia boleh meyakini dan mempertahankan keyakinan masing masing.

Setelah berbagai kompetisi,  pentas seni-budaya dan pameran karya akademik digelar selama 3 hari, 27 s/d 29/10/18, Kamis, 1/11/18 dihelat Seminar Nasional bertajuk Pemuda dan Bela Negara, dilanjutkan diskusi panel. Pada pidato mengawali seminar nasional, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D.,  mengajak untuk bersyukur hidup di Negara Besar Indonesia yang memiliki  Pancasaila. Dengan Pancasila, Indonesia memiliki 7 prestasi  tingkat dunia yang tidak dimiliki negara manapun. Pertama, sebagai negara yang  terjajah selama 434 tahun, dimana Islam sebagai pendatang baru yang bisa menjadi mayoritas dan bisa menyatukan segala perbedaan, bersatu untuk memperjuangkan kemerdekaan yang akhirnya terwujud pada  Agustus 1945. Ini tidak terjadi di negara manapun.

Kedua, negara-negara besar Islam hancur pasca perang dunia I dan II.  Tetapi Indonesia , tanpa terlibat dalam negara super power manapun, tiba-tiba mampu melahirkan  negara yang lebih besar dengan segala kekayaannya.

Ketiga,  Amerika Serikat besar tetapi pecahan dari Inggris, Rusia besar tetapi pecahan Uni-Sovyet, India yang dulu merupakan negara besar di bawah Islam terpecah menjadi India dan Pakistan kemudian jadi Banglades, Malaysia ada karena dimerdekakan. Saudi Arabia mengkianati Otoman Imperium yang kemudian mandiri menjadi kerajaan bukan khilafah.  Sementara  kawasan Muslim terbesar di dunia yang ada di  Indonesia mampu merangkul semua perbedaan, menyatukan yang kecil-kecil untuk melahirkan negara yang lebih besar yakni NKRI, yang tidak ada tandingannya di dunia.

Keempat, nasionalisme dunia Islam mencabik-cabik  negara Islam dari negara-negara besar menjadi negara-negara kecil. Tetapi nasionalisme di Indonesia justru mampu menyatukan pluralitas dan umat Islam yang berlapis-lapis  menjadi terbesar di dunia, bahkan memiliki 17.000 sekian pulau.  Bahkan Generasi Rosulullah pun tak mampu melahirkannya.

Kelima, ketika dua negara superpower berperang dengan  senjata bom atom, yang menghancurkan negara-negara, tetapi Indonesia yang tidak memiliki teknologi apapun, justru mampu melahirkan negara besar dengan bermodal persatuan dan kesatuan  yang ada dalam sila Pancasila. Inilah kekuatan  Pancasila.

Keenam, kerajaan dan kesultanan  di Indonesia dengan suka rela menyerahkan kekuasaan dengan segala konsekuensi konstitusinya  demi berdirinya NKRI, ini tidak terjadi di belahan dunia manapun kecuali di Indonesia.  Ketujuh,  Lahirnya Pancasila dimotori oleh  ulama dan Kyai Muslim di Indonesia. Oleh karena itu Pancasila bisa disebut sebagai mukjizat dari Allah SWT untuk Indonesia. 

Oleh karena itu Prof. Yudian mengajak segenap mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia yang hadir di forum ini untuk memahami bahwa seluruh umat Islam di Indonesia boleh meyakini dan mempertahankan keyakinan masing masing, tetapi juga harus menyepakati konsensus bersama, yakni Pancasila,  Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. Dasarnya menurut Prof. Yudian adalah bahwa sepeninggal Rasulullah, legitimasi tertinggi umat Islam adalah Ijma’ atau konsensus, bukan lagi pemahaman masing masing terhadap al Qur’an dan hadis, karena kalau itu yang dipegang  maka akan terus timbul perpecahan dikalangan umat Islam sendiri. Di sisi lain dengan kebesaran hati  umat Islam menerima konsesus bersama yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, maka  ke depan, tidak mustahil Indonesia menjadi pemimpin negara-negara Muslim di Dunia, kata Prof.  Yudian.

Kepala Kesbangpol DIY Agung Supriyanto yang mewakili Sri Sultan Hamengkubuwono X mengajak generasi muda mahasiswa Indonesia ambil peran sesuai bidang keilmuannya masing masing untuk membesarkan NKRI. Dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari seperti, beribadah sesuai tuntunan agama dengan sebaik-baiknya, namun juga bertoleransi,  saling menghargai, menjunjung tinggi kejujuran, tidak mengagungkan ambisi golongan, suka bekerjasama dalam kebaikan, tidak mudah terpancing melakukan kekerasan dan sebagainya.

Di tengah – tengah agenda seminar, perwakilan Mahasiswa seluruh Indonesia dipimpin ketua Dema UIN Sunan Kalijaga, M. Romli mengucapkan tekat kebangsaan Mahasiswa Indonesia yakni: “ Kami Mahasiswa Indonesia, Bertanah Air  yang Satu  Tanah Air tanpa Penindasan, Berbangsa yang Satu Bangsa yang Berkeadilan, Berbahasa yang Satu Bahasa tanpa Kebohongan. Kami Intelektual Muda Indonesia bertekat menjaga Keutuhan NKRI dengan semangat Kebhinekaan, Menjaga Keutuhan antar Golongan dalam keberagaman. Kami Mahasiswa Indonesia berkomitmen  bahwa Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD’45 adalah Empat Hal yang tidak bisa dirubah dan diganggu gugat, Mengamalkan Ilmu dan Bakti untuk Keadilan dan Kemakmuran, Membangun Peradaban demi Martabat Bangsa Indonesia di mata Dunia.” demikian tekat bersama mereka.

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prof. Pratikno dalam presentasinya menyampaikan bahwa momen Pekan Pancasila dan Bela Negara yang di selenggarakan di Kampus UIN Sunan Kalijaga seperti mengingatkannnya pada momen  Sumpah Pemuda tahun 1928 lalu, sebagai Imagined Community. Pada saat itu para pemuda seperti sudah memiliki Negara Kesatuan Republik Indonesia, sementara realitasnya Indonesia saat itu masih bercerai berai dan terjajah. 

Tekat Sumpah Pemuda mewujudkan Persatuan dan kesatuan dikabulkan oleh Allah dengan terwujudnya NKRI. Maka bukan tidak mungkin tekat para mahasiswa Indonesia yang berkumpul di forum ini juga akan dikabulkan Allah SWT, jika didasarkan pada ketulusan hati. (*)