Ragam Editor : Agus Sigit Rabu, 31 Oktober 2018 / 14:44 WIB

Sereeem..Panjat Pohon Klengkeng, Bocah Ini Ngaku Dipanggil Ayahnya

Cerita Hubungan manusia dengan lelembut pasti pernah kita dengarkan. Seperti kisah hubungan manusia dan penunggu pohon dibawah ini.

BOCAH laki-laki umur sembilan tahun itu oleh emaknya diberi nama Bambang Sagoro (bukan nama sebenarnya). Namun orang-orang di sekitarnya lebih sering memanggilnya Tupon. Kependekan dari hari kelahirannya, Setu Pon.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Semua warga mahfum jika Tupon bukan keturunan manusia biasa. Konon anak laki-laki berkulit hitam itu adalah hasil hubungan gelap antara Mak Kawul (nama samaran) dengan makhluk halus berupa gendruwo, penghuni pohon klengkeng besar di pojok dusun.

Menerima kenyataan dan konsekuen akan hal yang telah dilakukan, Mak Kawul merawat bocah lanang itu dengan penuh kasih sayang. Memang, pada saat-saat tertentu, Tupon seperti lepas kendali. Berbuat semau-maunya dan tidak lazim seperti bocah sepantarannya. Kalau sudah begitu, hanya emaknyalah yang bisa meredam dan melunakkan hatinya.

Seperti biasa sore itu Tupon bermain dengan teman-teman sebayanya. Berlarian kesana-kemari main jethungan. Tiba-tiba Tupon seperti melihat sesuatu. “Hei melihat apa kamu, Pon? Ayo kita lanjutkan permainan ini,” ujar Ipul, temannya.

Tupon sepertinya tidak mendengar ujaran temannya. Tetap saja matanya menatap ke arah barat. Kemudian tanpa diduga dia berlari dengan tangan melambai seakan meraih sesuatu.

“Paaak…aku ikuuut…,” begitu teriaknya keras-keras.

Lari Tupon semakin cepat. Teman- teman bermainnya pada bengong. Hanya bisa mengikuti dari belakang. Sampai di bawah pohon klengkeng besar di pojok dusun, langkah Tupon terhenti.

Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri Tupon dengan terampil memanjat pohon klengkeng tersebut. Tampak sangat tidak masuk akal. Dalam memanjat pohon klengkeng itu Tupon seperti orang berlari.

Mak Kawul yang diberitahu akan hal itu, langsung menghubungi Mbah Jiyo (nama samaran), orang pintar yang sering dimintai tolong warga untuk menyelesaikan hal berbau gaib.

Mbah Jiyo bertindak. Mengikuti jejak Tupon memanjat pohon klengkeng. Dengan kesabaran yang tinggi Mbah Jiyo membujuk Tupon. “Turun yuk, Pon. Biarlah ayahmu tinggal disini. Rumahmu kan di bawah sana. Tuh kamu sudah ditunggu Emakmu,” ujar Mbah Jiyo lemah-lembut.

Tidak seperti ketika naik, Tupon turun dengan pelan dan hati-hati. Sampai di bawah, Tupon digandeng diajak pulang ke rumah Emaknya. “Tadi itu aku dipanggil Ayah, Mbah. Katanya dia rindu padaku,” ujar Tupon polos. (Andreas Seta RD/Harianmerapi.com)