Inspirasi Editor : Danar Widiyanto Senin, 29 Oktober 2018 / 01:31 WIB

Sepeda di Towilfiest, Semakin Kuno Semakin Berharga

BENDA-BENDA kuno kini semakin diminati oleh masyarakat. Pasarnya tak hanya di dalam negeri, melainkan telah merambah hingga ke mancanegara. Sepeda onthel menjadi salah satunya. Sepeda buatan Eropa ini menjadi daya tarik bagi para turis dan wisatawann yang berkunjung ke Desa Bantar, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.

Muntowil (44), seorang lelaki gondrong yang hobi mengkoleksi sepeda kuno yang ada sejak zaman penjajahan Belanda. Tak hanya untuk dikoleksi, pria yang akrab dipanggil Towil juga menjadikan sepeda sebagai lahan bisnis.

Berangkat dari kehancuran karirnya sebagai buyer agent handycraft dan furniture luar negeri, ia menjadikan hobi bersepeda sebagai titik balik dari usahanya. Merintis ulang dari nol, Towil berhasil menjadikan Towilfiest sebagai tempat berkunjung wisatawan, terutama wisatawan asing.

Towilfiest, menjadi brand yang digunakan oleh Towil untuk menarik wisatawan yang ingin menikmati suasana pedesaan dengan cara bersepeda. Keberadaan Towilfiest sempat menganggetkan bagi istri dan ibu mertuanya. Pasalnya mereka tak menyangka Towil mampu memiliki pemikiran untuk menjadi hobi bersepedanya menjadi lahan bisnis.

"Waktu itu setiap saya pulang pasti membawa sadel ataupun rangka sepeda. Istri dan ibu mertua saya sampai tak habis pikir jika saya telah mempunyai lebih dari sepuluh sepeda," ungkap Towil.

Rasa was-was yang dialami Istri dan ibu mertuanya semakin bertambah seiring jumlah sepeda kuno Towil yang ikut bertambah. Namun lambat laun, mereka telah mengerti bahwa sepeda kuno itu disewakan kepada wisatawan.

Jumlah sepeda  milik Towil, kini  menyentuh seratus buah. Sepeda kuno milik Towil menjadi sebuah ikon karena keunikan dan keantikan yang dimiliki. Sepeda kuno memiliki nilai yang sangat tinggi, harga jualnya berkisar Rp 4 hingga Rp 20 juta untuk setiap sepeda. 

Harga jual yang dimiliki oleh sepeda-sepeda kuno milik Towil didasarkan pada orisinalitas sepeda, orderdil asli, dan juga tahun pembuatan sepeda. Biasanya semakin langka sepeda kuno, maka harganya pun semakin tinggi di pasaran. 

Setiap sepeda mempunyai rasa, jiwa, dan karsa yang berbeda-beda. Setiap sepeda juga mempunyai nilai yang sangat tinggi. Terlebih ketika sepeda tersebut merupakan peninggalan  dari orang-orang berpengaruh lainnya.

"Saya nggak pernah ingin memiliki sepeda yang masih dipakai orang, namun jika sepeda itu hanya menggangur saja, maka saya akan berusaha dengan berbagai cara untuk membelinya," ungkap Towil.

Towil tidak bekerja sendiri untuk mereparasi sepeda-sepeda kuno agar siap digunakan. Ia bekerjasama dengan dua temannya untuk merawat sepeda-sepeda koleksinya. Biasanya keluhan terdapat pada sadel yang terlalu rendah, pedal, dan rem yang berat ataupun kurang berfungsi. 

Jika di tengah perjalanan memutari desa ada sepeda kuno yang mengalami kerusakan, Towil akan segera menyuruh anak buahnya untuk mengganti sepeda tersebut dengan sepeda lain. 

Awal perjalanan akan dimulai dari Towilfiest, dimana nanti juga akan berakir disana. Rute yang digunakan melingkar, tanpa tanjakan berlebihan atau turunan yang terlalu curam. Hal tersebut disebabkan sepeda kuno termasuk dalam city bike atau sepeda kota yang biasa digunakan pada jalan datar. 

Selama perjalanan itulah Towil atau pemandu akan bercerita tentang aktivitas masyarakat di desa. Bahkan tidak sedikit wisatawan asing yang ikut beraktivitas layaknya orang desa. (Brigitta Adelia)