Inspirasi Editor : Agung Purwandono Selasa, 23 Oktober 2018 / 15:09 WIB

Bambooland, Buat 'Gedek' yang Mampu Bertahan 30 Tahun

 

GEDEK atau anyaman dinding rumah dari bambu ternyata mampu bertahan hingga 30 tahun. Melalui pemilihan bahan hingga pengolahan yang tepat, tanaman yang banyak ditemui di Indonesia ini bisa memiliki usia yang pangjan.

Kelebihan bambu ini menarik perhatian delegasi Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2018 yang berlangsung 15-20 Oktober 2018 di Yogyakarta. Salah satu rangkaian kegiatanya yaitu Creative Trip, yang mengunjungi  tempat-tempat wisata yang diantaranya adalah Bambooland, Sabtu (20/10/2018).  

Tempat ini merupakan pemuliaan dan pemanfaatan bambu yang terletak di  Dusun Ngepring, Purwobinangun, Pakem, Sleman. Salah satu yang menarik perhatian delegasi ICCF 2018 adalah pemanfaatan dan pengawetan bambu menjadi gedek.

Yulianto Prihatmaji selaku pengurus Bambooland membawa seluruh rombongan delegasi ke pengolahan pengawetan gedek dan menjelaskan tentang sekilas proses pembuatan. Ketika Yulianto mengatakan gedek yang sudah diawetkan ini mampu bertahan hingga 30 tahun, maka seketika peserta  bertanya, saling mengangkat tangan, berebutan dan terus membrondong pertanyaan kepada yulianto.

Baca Juga :

Irul, Majukan Dusun dengan Jualan 'Online'
Kedai 'Mari Ngopi' Tawarkan Bayar Seiklasnya
Atap Senja, Perjuangkan Pendidikan Bocah Bantaran Kali di Yogyakarta

Peserta bertanya dari proses pembuatan, peralataan yang dibutuhkan sampai cairan obat yang digunakan untuk pengawetan. Tidak lupa peserta mengabadikan proses pembuatan dengan kamera dan ponsel mereka.

Ariyanto menjelaskan proses pembuatan gedek, sebagai perajin ia selama ini menunggu pesanan dari pelanggan. Setelah permintaan diterima selanjutnya mulai menebang bambu. Penebangan ini juga tidak sembarang memotong. “Ada klasifikasi koding umur dan kondisi bambu yang boleh ditebang atau tidak. Karena selain memanfaatkan juga melakukan pemuliaan, sehingga tidak bisa asal menebang,” kata Ariyanto.

Setelah bamboo didapatkan, mulai dilakukan pemotongan panjang bambu menjadi beberapa ukuran. Diantaranya, 3 meter, 2,4 meter, 1,8 meter dan 1,2 meter. Walaupun ukuran tersebut bisa fleksibel tergantung pesanan dari pelanggan.

Namun, biasanaya ukuran-ukuran itulah yang sering dipesan. Kemudian mulai dipilar dan direbus dengan cairan pengawetan di dalam sebuah wadah tungku dari logam. Cairan tersebut terdiri dari borak borik dan air. Dicampurkan dengan rasio borak 5kg, borik 4.5 kg dan air secukupnya.

Proses perebusan berlangsung selama 3 jam, setiap jamnya pilar dibalik agar semua bagian terebus rata. Disamping itu terus di pantau kondisi air, jika air mulai berkurang maka ditambah secukupnya begitupula borak dan borik.

Setelah selesai perebusah kemudian ditiriskan dan dijemur supaya kering dan tidak berair. Perebusan dengan borak borik ini bertujuan untuk menghilangkan gula glukosa yang terkandung dalam bambu dan membunuh rayap dan organisme lain yang memungkinkan penyebab keroposnya bambu.

Gedek yang sudah diawetkan siap dikirim ke pemesan. (Fathoni)

Begitupula gedek yang sudah melalui pengawetan ini bisa tahan rayap dan tahan jamur, namun dalam penerapanya agar bisa awet, disarankan agar tidak sering terkena air. Karena bisa menyebabkan pelapukan, walaupun jangka waktu lebih lama daripada gedek yang tidak melalui pengawetan.

Pengawetan gedek ini menarik perhatian delegasi  ICCF, salah satunya Adi Ampolo (50) dari komunitas Rumah Estribi Atam Bua, Belu, NTT. Beliau menganggap ini suatu kreatifitas yang luar biasa, karena memanfaatkan sumber daya alam dan masyarakat setempat.

Pengawetan gedek ini bagi Adi sangat inovatif, berbeda di tempatnya. Di Belu, bambu yang dijadikan gedeg juga ada tapi hanya bambu di pilar lalu dijadikan dinding, loteng, lantai dan perabot lainnya. Tidak melalui tahapan pengawetan dan durasi awetnya tentu tidak selama yang melalui proses pengawetan

Adi juga menyampaikan harapanya inovasi ini tidak hanya berhenti di tempat ini saja. Bisa menyebar luas, banyak yang menerapkan dan bisa menginspirasi orang banyak. Selain itu pengawetan bambu ini bisa membantu masyarakat setempat dalam mencukupi kebutuhanya sehari-hari. (Fathoni)