Pendidikan Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 23 Oktober 2018 / 13:41 WIB

Eksplorasi dan Upaya Meningkatkan Potensi Atsiri Cengkeh

YOGYA, KRJOGJA.com - Minyak atsiri merupakan sumber minyak nabati yang bermanfaat sebagai bahan baku obat, kosmetik, aroma terapi makanan olahan dan lainya. Bahkan, sekitar 60 persen kebutuhan minyak atsiri dunia ditopang dari Indonesia. 

Karena itulah, produksi minyak atsiri di Indonesia memiliki potensi besar untuk dieksplorasi, karena negara ini memiliki kekayaan alam flora yang berlimpah. Hal tersebut yang menjadi hasil eksplorasi mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga yang telah menyelesaikan tanggungjawab dan kewajibannya di Samigaluh Kulonprogo pada akhir pekan lalu. Kebetulan di Samigaluh Kulonprogo ada 18 sentra pembuatan minyak atsiri cengkeh yang berasal dari daun dan batang cengkeh.

"Minimal dari hal itu saja dapat menyerap tenaga kerja untuk mengumpulkan cengkeh. Setelah itu baru disetorkan ke sentra pengolahan atsiri cengkeh," ucap dosen Prodi Kimia UIN Sunan Kalijaga, Didik Krisdiyanto SSi MSc dan Irwan Nugraha SSi MSc, Selasa (23/10).

Tiga mahasiswa Prodi Kimia UIN Suka, Adit, Taufiq dan Fitri secara khusus mengadakan eksplorasi tentang atsiri cengkeh ini setelah lepas dari kewajiban KKN. Dengan pendampingan dua dosen tersebut, mereka mendapatkan data jika selain Kecamatan Samigaluh, ada dua kecamatan lain yang potensial penghasil cengkeh, yakni Kalibawang dan Kaligesing.

"Hanya saja produksi minyak atsiri di ketiga wilayah tersebut kualitasnya belum bisa diandalkan dan hasil penyulingannya kurang optimal. Alasannya selain masih menggunakan tungku penyulingan tradisional, produksi minyak atsirinya masih merupakan minyak kotor atau belum dimurnikan. Kandungan minyak atsiri yang terdiri dari eugenol, eugenit asetat dan kariopilene (caryophyllene) juga belum teruji, sehingga harganya menjadi rendah. Rendemennya juga masih rendah, hanya berkisar 1,8 persen dengan harga minyak kotor yang hanya sekitar Rp 215.000 per kilogram," terangnya. (Feb)