Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 23 Oktober 2018 / 11:08 WIB

Santri Menjadi Duta Kerukunan dan Keberagaman

SEMARANG, KRJOGJA.com - Peringatan hari santri yang terasa marak di berbagai daerah di Jawa Tengah, tak lepas dari perhatian dan jasa besar Presiden Jokowi yang menerbitkan Kepres 22/2015 tentang Hari Santri Nasional (HSN). Maka sejak itu, peringatan setiap 22 Oktober di berbagai penjuru terasa menggema. Termasuk di Jateng puncak peringatannya dilakukan upacara di lapangan Simpanglima, Semarang dengan Irup Gubernur Ganjar Pranowo.

Ribuan peserta upacara yang terdiri para santri, para pengasuh pondok pesantren, ASN, ormas keagamaan mengenakan pakaian ciri khas santri, yakni sarung, kemeja dan jas. Namun banyak pula para santri yang mengekan pakaian koko.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

"Ini merupakan jasa besar Pak Presiden Jokowi terhadap lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia lewat anugerah HSN,” kata Kepala Kanwil Kemenag Jateng Drs H Farhani SH MM kepada pers, Senin (22/10/2018).

Farhani menegaskan ada momentum strategis dengan lahirnya HSN, yakni menjadikan santri sebagai duta kerukunan dari keberagaman di Indonesia. Predikat ini sangat tepat diberikan kepada santri. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara prinsipnya yang sama jangan dibedakan dan yang beda jangan disamakan. Koridornya meski berbeda kita tetap bersaudara.

Menurutnya, hubungan agama dan negara di Indonesia bercorak pada simbiosis mutualisme. Agama membutuhkan negara untuk pelestarian dan pengembangannya dan negara membutuhkan agama sebagai landasan etik dan moral dalam membangun NKRI.

“Maka untuk mengimplementasikan Islam di Indonesia tidak membutuhkan formalitas negara Islam. Islam dapat berkembang tanpa harus mengubah NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika,” tegasnya. (Isi)