Ragam Editor : Ivan Aditya Senin, 22 Oktober 2018 / 20:37 WIB

Rela Izin Kuliah Demi Jadi Relawan Lombok

SEMESTA tak lekas menghentikan tangisan dan duka pada pulau yang dijuluki Seribu Masjid ini. Laut biru dan pasir putih seolah-olah ikut meraung dan merintih kesakitan bersama sisa-sisa ombak yang terkapar. Gunung Rinjani tidak menangis. Ia justru berdiri kokoh dan gagah seolah-olah sedang menyombongkan kekuatannya yang begitu tangguh. Lombok,  pulau termasyhur dengan kesemampaian matahari menarikan pantulan jingga setiap petang, kini hanya tersisa sebuah kenangan.

Pulau yang ditinggali suku Sasak ini sempat mengalami trauma yang mendalam. Gempa berkekuatan 6,4 SR tanggal 29 Juli 2018 pukul 06.47 WITA mampu membuat tangis dan luka. BMKG mencatat, setidaknya ada 585 kejadian gempa susulan pascakejadian dan berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), secara keseluruhan kerusakan yang diakibatkan oleh rangkaian Gempa Lombok 2018 adalah 71.962 unit rumah rusak, 671 fasilitas pendidikan rusak, 52 unit fasilitas kesehatan, 128 unit fasilitas peribadatan serta sarana infrastruktur.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Rela dan terlatih adalah dua kata yang menjadi motivasi bagi Ratih Jessy Arieswandari, relawan gempa Lombok. Mahasiswa semester lima ini sudi tidak mengikuti kuliah selama sepuluh hari untuk menjadi bagian dari sejarah. “Ketika Lombok dilanda gempa berkali-kali, aku merasa mereka sangat membutuhkan ulur tangan dan pendampingan para relawan,” ungkap mahasiswa UGM ini.

Petualangan tersebut ia mulai pada tanggal 20 Agustus 2018. Mahasiswa berumur 19 tahun itu pergi bersama Komunitas Pendaki Gunung (KPG) Yogyakarta. Kemudian mereka melanjutkan pemberangkatan dari stasiun Purwosari pukul 17.00 WIB ke Surabaya.

Tanggal 21 Agustus 2018, sampailah ia di Surabaya pukul 01.00 WIB. Kemudian, Jessy dan teman-teman meneruskan perjalanan menggunakan kapal ke Gunung Sari, Lombok dari pukul 14.00 WIB hingga 18.00 WITA.

“Perjalanan dari stasiun Lempuyangan Yogyakarta naik Pramex ke Solo. Dari sana naik mobil sampai Surabaya, terus dari Surabaya ke Lombok naik kapal Legundi bayar 170  ribu  dan sudah termasuk makan,” tangkasnya.

Gunungsari terasa panas. Walaupun malam, rasanya udara tetap saja tidak membantu kesyahduan susasana malam.  Jessy melihat begitu banyak pengungsi dan beberapa relawan yang sedang bertugas. Ia juga berkenalan  dengan beberapa relawan dari berbagai daerah lainnya, seperti Solo, Karawang, Garut, Bandung, Wonosobo, dan Magelang.

Banyak anak yang trauma pasca bencana alam ini. Melihat hal tersebut, Jessy  turut mendampingi mereka agar merasa tenang. Beberapa dari mereka ada yang takut mandi di kamar mandi atau hanya mau tidur di pohon hanya karena takut tiba-tiba terjadi gempa. Di sana, ia dan teman-temannya menerangkan bagaimana langkah yang harus dilakukan ketika terjadi gempa mendadak. “Kita melakukan pendekatan dan arahan ke anak-anak dan ibu-ibu kalau semisal ada gempa tiba-tiba,” pungkasnya.

Jessy pun juga membuat kamar mandi sanitasi yang lebih layak. Selain itu, ia juga turut membantu pendistribusian barang-barang kebutuhan anak dan bayi.

Sepanjang hari, gadis ini bekerja di dapur umum bersama rekan-rekan lainnya. Pekerjaannya, memasak makanan pokok dan memastikan persediaaan makanan tidak habis.

Jessy mengungkapkan, barang-barang melonjak naik pascagempa. “Harga barang melonjak, utamanya terpal. Ukuran 3x4 aja 200 ribu,” terangnya.

Walaupun begitu, bahan makanan pokok selalu tersedia. Hal ini dikarenakan banyak donasi yang disalurkan para donatur, “Kadang masyarakat di sini juga nyembeli sapi dan kambing sendiri,” tambahnya.

Malam di tempat pengungsian begitu ramai. Anak-anak bermain kejar-kejaran, dan masih saja ada yang tidak mau tidur di dalam tenda. Terdengar suara paku diketuk berkali-kali, menandakan huntara sedang di bangun. Huntara adalah sebuah tenda kecil yang digunakan sebagai tenda tambahan. Beberapa juga membuat dipan untuk anak-anak dan usia lanjut (lansia).

Lagi-lagi, Jessy yang bertugas sebagai penyedia makanan, juga turut  membuatkan kopi untuk teman-temannya ketika membangun huntara. “Ya, tiap malam aku buat kopi supaya mereka enggak ngantuk,” ujarnya.

Jessy mengakui bahwa ia akan mengikuti kegiatan volunteering lain kedepannya jika dibutuhkan, “Kalo ditanya mau jadi volunteer lagi apa enggak iya, karena aku tau seberapa menderitanya mereka dengan bencana dan mereka berharap banget dari volunteer-volunteer,” ungkapnya. (Azizah Liyana Saffa)