Ragam Editor : Agus Sigit Senin, 22 Oktober 2018 / 16:46 WIB

Lelembut Iseng Hobi Gelitiki Anak Kos

Kisah anak kost dengan lelembut kamar pasti pernah diceritakan. Sepertik kisah anak kost yang menjadi korban lelembut iseng dibawah ini. Seperti dikutip dari Harianmerapi.com, endingnya anak kost tersebut sampai tidak betah tinggal diklamar itu..

SEBAGAI mahasiswa perantauan, Hisam (bukan nama sebenarnya) terbiasa hidup sederhana. Hal itu sudah tiga tahun dijalani, karena ia kini sudah semester enam. Ia menyadari, jika kiriman uang dari orangtuanya hanya pas-pasan. Karena itu, Hisam pun menerima dengan senang hati ketika Pak Jamil (nama samaran), bekas Kepala Kantor orangtuanya, berkenan memberi bantuan.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

“Ada sebuah kamar kos yang selalu kosong. Tinggallah di situ. Untuk kamu cukup bayar separo harga,” ujar Pak Jamil kepada Hisam.

Hisam dengan senang hati menerima bantuan tersebut. Sebuah kamar kos yang cukup memadai. Dia heran, kamar yang cukup istimewa menurut ukurannya, hanya disuruh bayar sewa separo harga.

Malam itu hari ke lima Hisam menempati kamar kosnya. Jam sebelas malam dia baru pulang dari rumah temannya. Karena capek dan mengantuk, begitu masuk kamar terus merebahkan tubuhnya dan les…tertidur pulas.

Belum lagi tigapuluh menit, Hisam terbangun. Pinggangnya terasa ada yang ngithik-ithik. Karena tidak tahan menahan geli, kontan Hisam ketawa dengan tubuh menggelinjang-gelinjang.

“Ha…ha…ha…sudah..sudaah…sudaaah…! Siapa ini yang ngithik- ithik ya?” teriaknya keras-keras.

Namun ketika bangkit dari tempat tidur, Hisam tidak melihat siapa pun di dalam kamarnya. Dia mulai sadar jika yang mengganggunya bukan manusia biasa, tapi makhluk halus penunggu kamar yang ditempati.

Ada sedikit rasa takut, tapi Hisam kembali merebahkan tubuhnya. Lima menit, sepuluh menit, Hisam merasa tenang. Namun begitu masuk menit ke tigapuluh, Hisam kaget. Lagi-lagi pinggangnya terasa digelitiki.

Hisam pun mengambil sapu lidi bermaksud akan memukul yang ngithik- ithik, namun tidak melihat wujudnya. Karena jengkel, sapu hanya dipukul-pukulkan ke kasur dengan sekuat tenaganya. Dia pun berujar dengan beraninya. “Hei siapa pun kamu. Jangan ganggu aku ya!”

Penunggu kamar tersebut rupanya termasuk lelembut yang sangat usil. Setiap tigapuluh menit sekali, perbuatan ngithik-ithik pinggang Hisam diulangi dan diulangi.

Hingga jam lima pagi, pinggang Hisam digelitiki sampai enam kali. Keruan saja semalaman dia tidak bisa memejamkan mata. Esok harinya Hisam menemui Pak Jamil, menyerahkan kunci kamar kosnya. Tanpa menyebut alasannya, Hisam mengatakan akan pindah mencari kos yang lain saja. (FX Subroto)