Ragam Editor : Agus Sigit Senin, 22 Oktober 2018 / 15:45 WIB

Seraaam...Pocong Pohon Beringin Minta Bonceng Sepeda

Kisah misteri hantu berwujud pocong atau jenazah dibalut kain kafan mungkin sangat menyeramkan bagi sebagian orang. Banyak kisah misteri penampakan pocong ditempat sepi ataupun angker. Seperti kisah dibawah ini seperti dikutip dari Harianmerapi.com

SEBENARNYA dia merasa berat hati bersepeda pergi ke Godean untuk mengantar jamu pada kakeknya. Ibunya berkata, “Jamu itu harus di rebus malam ini, untuk diminum kakekmu besok pagi.” Sudi (bukan nama sebenarnya) tidak dapat membantah, apalagi di rumah memang hanya Sudi dengan ibunya.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Sudi mengajak Tanto (nama samaran). “Kita naik sepeda sendiri-sendiri saja Tan, tidak boncengan,” pinta Sudi. Setelah berpamitan, mereka mulai mengayuh sepedanya, “Lewat selatan saja ya, Tan,” pinta Sudi.

Tiga perempat perjalanan setelah melompati rel kereta, mereka melewati bulak panjang. Sudi mulai was-was, “Di depan ada beringin kembar,” pikir Sudi. Bulu kuduk Sudi berdiri, karena banyak cerita seram tentang beringin itu. Beruntung Tanto tetap semangat dan agak jauh meninggalkan Sudi. Dan benar. Ketika Sudi hendak melewati beringin, terlihat percik nyala api, tetapi dalam sekejap berubah kebiruan. Lalu melesat ke atas, kemudian pelahan turun sambil berputar, semakin membesar, akhirnya berubah menjadi pocong dan duduk membonceng sepeda Tanto.

Sudi hendak berteriak bahwa ada pocong di boncengan, namun suara tertahan di mulut. Tapi ketika ia memanggil, “Tanto, Tanto….,” suara itu keluar dengan lantang. Yang dipanggil menghentikan sepedanya. “Ada apa, Sud?”

Ketika Tanto menoleh, diboncenganya sudah tidak terlihat pocong lagi, Sudi diam terpaku, Tanto segera membalik arah sepedanya untuk menghampiri Sudi, “Kenapa? Banmu bocor,” tanyanya. Sudi menggeleng. “Jika tidak ada apa-apa, yuk kita segera melanjutkan perjalanan.”

Sudi mengangguk, “Tapi pelan-pelan saja, Tan.”

Akhirnya mereka sampai di rumah kakek. “Wah, sudah saya tunggu,” kata Kakek membukakan pintu. “Kamu pemberani, Sudi, juga Tanto, nggak ada apa-apa kan di jalan?”

“Nggak, Kek,” sahut Tanto. Sudi diam, nggak mau bercerita tentang kejadian yang baru saja dialami. “Kek, ini jamunya,” kata Sudi sambil menyerahkan jamu itu.

“Oh, ya, biar segera dimasak Utimu,” sambut Kakek, “Yuk masuk, Utimu sedang menyiapkan makam malammu,” ajak kakeknya untuk menuju ruang makan.

“Sebaiknya kamu tidur sini saja, baru besok habis Subuh kamu pulang,” pinta Kakek sambil memberikan piring.

“Ya, kalau Subuh dari sini sudah padang, sekolahmu pun juga belum telat,” lanjut Uti mengisi piring dengan nasi. “Yuk, sayur dan telor ceploknya ambil sendiri-sendiri.”

Malam itu Sudi dan Tanto menginap di rumah Kakek, Sudi minta tidur ditemani Kakek. “Kek besok pagi dibangunin lho, Kek,” pinta Sudi kepada kakeknya. (Bagong Soebardjo/Jbo)