DIY Editor : Agus Sigit Kamis, 18 Oktober 2018 / 10:28 WIB

Kisah Heroik YB Soekamto, Dikejar Awan Panas Saat Evakuasi Warga Erupsi Merapi 2010

SLEMAN, KRJOGJA.com - Erupsi Merapi Selasa 26 Oktober 2010 memang sudah delapan tahun lalu usai. Namun, kisah-kisah luar biasa yang menyertai masa di mana alam menyeimbangkan diri tersebut belum usang untuk kembali diceritakan.

 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Salah satu yang mungkin masih membuat merinding adalah kisah penyelamatan terakhir warga di Kinahrejo Cangkringan, lokasi di mana almarhum Mbah Marijan sang juru kunci tinggal. Salah satu yang ingat betul saat-saat tersebut adalah YB Soekamto, warga Pandanpuro Hargobinangun Pakem Sleman.

Saat malam kejadian, Soekamto adalah supir terakhir yang nekat menjemput warga Kinahrejo untuk dievakuasi ke lokasi aman. Pria 59 tahun ini pun mengisahkan kembali saat-saat yang sebenarnya pertaruhan nyawanya sendiri saat berusaha mengevakuasi warga saat berbincang dengan KRjogja.com Rabu (17/10/2018) malam.

“Saat itu kondisi sudah sangat kritis, Merapi sudah meletus tinggi sekitar setengah tujuh malam (26 Oktober 2010). Tapi saat itu warga di Kinahrejo masih belum mau mengungsi padahal desa itu terakhir dan paling atas,” kenang pria yang rambutnya mulai memutih ini.

Ketika itulah hasrat menolong dalam dirinya terkumpul kuat untuk berusaha membawa sebanyak mungkin warga untuk diajak turun ke tempat aman. Sudah tidak ada rekomendasi naik ke Kinahrejo saat itu karena kondisi Merapi yang sudah erupsi.

“Saya sempat bilang pada salah satu wartawan yang mau ikut, saya tidak berani jamin keselamatan karena ini taruhannya nyawa. Kami naik untuk mengajak warga turun, menggunakan mobil bak saya. Warga yang ada di jalan saya sisir, saya minta naik mobil untuk dibawa turun. Tapi saat itu tetap banyak warga yang tidak mau dan memilih di rumah,” ungkapnya dengan lirih.

Soekamto tak bisa memaksa kala itu, sekitar 30-an warga yang tak mau turun terpaksa ditinggalkannya sementara yang bersedia naik ke mobilnya langsung dibawa ke lokasi aman di bawah. Di sinilah cerita merinding itu terjadi, saat satu menit kemudian usai turun awan panas menyapu Kinahrejo hingga menewaskan warga termasuk Mbah Marijan kala itu.

“Hanya satu menit, kami turun belakang saya sudah terbakar semuanya. Beberapa warga yang mau naik selamat termasuk saya yang terakhir mengangkut mereka. Tapi yang belum mau turun ya meninggal semuanya. Tidak bisa dipaksa karena warga di Kinah percaya bahwa Merapi punya jalan lahar atau awan panas sendiri melalui Gendol,” sambungnya.

Nyawa Soekamto bisa saja terenggut kala itu jika saja ia terlambat satu menit saja membawa mobilnya turun dari Kinahrejo. Namun menurut dia, dorongan untuk menolong yang muncul dari dirinya lebih besar ketimbang rasa takut mati di saat itu.

“Dalam benak saya hanya menolong saja, ada  takutnya tapi rasa hati ingin menolong lebih besar muncul. Saya beranikan untuk maju saat itu, saya selamat karena mungkin memang jalan saya,” ungkap pria yang juga pelestari budaya karawitan dan dalang ini.

Kini, delapan tahun berselang apresiasi untuk Soekamto pun datang dari komunitas relawan Masyarakat Kerja Jokowi (Maskowi) yang lantas memberi penghargaan pada dia atas dedikasi pada kemanusiaan dan kebudayaan. Bukan uang yang diberikan namun sebuah penghargaan sederhana, merupakan wujud apresiasi atas dedikasi yang dilakukan Sukamto selama ini.

Tri Agus Siswo Wiharjo, salah satu perwakilan Maskowi mengungkap komunitas relawan yang baru saja dideklarasikan tersebut memang akan berkonsentrasi menjangkau masyarakat melalui kebudayaan dan kearifan lokal di Yogyakarta. Maskowi melihat sosok Sukamto dengan dedikasi tinggi di bidang kemanusiaan dan kebudayaan sangat layak diberikan penghargaan tersebut.

“Kami adalah masyarakat non partai yang mendukung sosok pemimpin yang punya dedikasi, Pak Jokowi. Kami menilai Pak Sukamto juga memiliki dedikasi luar biasa dalam merawat kebudayaan dan kemanusiaan. Kami ingin membawa inspirasi ini lebih jauh dan menyebarkan hal baik untuk masyarakat, melalui cara kami yakni seni budaya,” tandasnya.

Sukamto sendiri sebenarnya mengaku tak cukup pantas mendapatkan penghargaan dari Maskowi tersebut. Ia menilai masih banyak sosok lain yang juga mengabdikan diri pada kebudayaan dan kemanusiaan seperti dirinya.

“Sebenarnya masih banyak senior-senior saya yang lebih pantas menerima ini. Namun begitu, saya tetap berterimakasih atas apresiasi yang diberikan ini. Semoga membuat saya semakin greget dan semangat untuk melakukan hal baik kedepan,” pungkas Sukamto. (Fxh)