Ragam Editor : Agus Sigit Rabu, 17 Oktober 2018 / 13:47 WIB

Tukang Becak Ini 'Semaput' Setelah Turunkan Penumpang Berkebaya, Hii...Sereeem.

Pengalaman atau cerita mengantar mahluk halus pasti pernah dialami oleh pengemudi jasa angkut seperti ojek, bus bahkan hingga angutan tradisional seperti andong atau becak. Seperti kisah dibawah ini yang dialami seorang tukang becak di Yogyakarta.

SORE itu Gino (bukan nama sebenarnya) sedang thethek di tempat biasa ia mangkal. Tak berapa lama, datang seorang perempuan setengah baya. Berkain batik tulis dan berkebaya warna hijau tua. “Antar aku ke nDagaran, Pak. Duapuluh ya,” ujarnya.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Karena memang segitu ongkos naik becak dari tempat tersebut ke nDagaran, Gino pun <I>semrinthil<P>. Dikayuhlah becaknya pelan-pelan.

“Sama lapangan bola itu sebelah mananya, Bu?” tanya Gino.

“Sebelah timurnya persis,: jawab penumpangnya.

Gino terhenyak. Dia tahu betul jika sebelah timur lapangan bola adalah Makam Jatilaya. Sebuah pemakaman umum yang arealnya sangat luas. Tahu jika pengemudi becak itu cemas, penumpang perempuan tersebut tertawa ngakak.

“Enggak dhiiing. Aku hanya bercanda. Rumahku memang di sebelah timur Makam itu. Tapi ngetan sithik terus menggok ngiwa kira-kira limapuluh meter. Aku manusia lumrah, Pak. Bukan dhemit, bukan lelembut,’ ujar perempuan itu masih dengan ketawa ngakak.

Seminggu kemudian. Jam sepuluh malam Gino mengayuh becaknya lewat depan gedung pertemuan “Batik Indah”. Dia melihat sesosok perempuan, sepertinya cemas. Mungkin menanti jemputan yang belum kunjung datang. Untung-untungan Gino mendekati.

“Mangga saya dherekkan, Bu. Ke wetan Makam Jatilaya kampung nDagaran to?” ucap Gino berspekulasi.

Dia masih ingat jika perempuan tersebut adalah penumpangnya yang seminggu lalu dia antarkan ke tempat itu. Dan yang sangat diingat adalah busana yang dikenakan. Berkain batik tulis dan berkebaya warna hijau tua.

Tanpa menawar, perempuan tersebut langsung naik ke jok depan. Gino pun melenggang menuju tempat yang dimaksud. Sampai lapangan bola dan melewati depan gapura Makam Jatilaya, Gino mempercepat laju becaknya.

“Lho…lho…kebablasen, Pak. Stop, aku turun disini!” perintah penumpangnya begitu sampai di depan gapura Makam Jatilaya.

“Lho, rumah panjenengan kan masih kesana sedikit to?” ujar Gino setengah ngeyel.

Namun, secepat kilat penumpang perempuan berkebaya warna hijau tua itu melompat keluar. Belum juga memberi ongkos langsung berjalan menuju tengah makam.

Gino pun terhenyak. Dibawah sinar bulan purnama, dia melihat punggung perempuan penumpangnya itu…bolong. Darah kental keluar dari punggung yang berlubang. Gino semrepet dan tidak sadarkan diri. (Harianmerapi.com)