Jateng Editor : Agus Sigit Senin, 15 Oktober 2018 / 14:48 WIB

Produktifitas Menurun, Stok Beras Boyolali Masih Surplus

BOYOLALI, KRJOGJA.com – Kemarau panjang tahun ini mengakibatkan sejumlah wilayah produksi beras mengalami gagal panen. Meski ada penurunan produktifitas, namun stok beras di Boyolali masih aman karena tetap surplus.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Boyolali, Parwoto, Senin (15/10) menjelaskan, ada beberapa wilayah yang lahan pertaniannya paling terimbas kekeringan pada kemarau panjang tahun ini, mayoritas berada di wilayah Boyolali utara. Diantaranya Kecamatan Andong, Nogosari, Klego. Akibatnya, ada penurunan produktifitas beras hingga 25 ribu ton.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Meski demikian, persediaan beras di Boyolali masih sangat aman, sebab secara total jumlah produksi beras di Boyolali masih surplus. Per September kemarin, stok beras di Boyolali masih surplus 25 ribu ton hingga 30 ribu ton. "Penurunan di jumlah surplus beras. Biasanya surplus mencapai 50 ribu ton," terangnya.

Penurunan produksi beras juga tak melulu kemarau. Lahan persawahan juga berkurang akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan warga. Meski Boyolali sudah menerapkan lahan lestari untuk melindungi lahan produktif dari ekspansi pabrik dan sebagainya, namun lahan produktif berkurang karena lokasinya dibuat perumahan oleh warga atau pemiliknya sendiri.

Selain surplus beras, bahan pangan lain juga mengalami surplus produksi. Bahkan khusus umbi-umbian, surplusnya mencapai 140 ribu ton. Mengingat potensi yang sangat besar ini, pihaknya terus mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi umbi sebagai pangan alternatif, sekaligus menurunkan ketergantungan masyarakat pada konsumsi beras. "Misal dalam makan tiga kali sehari, yang satu kali mengkonsumsi ubi," (Gal)