DIY Editor : Danar Widiyanto Senin, 15 Oktober 2018 / 13:11 WIB

Batik Adopsi Jepang Ini Jadi Ikon WIBLUKAM 11

SELAIN dikenal dengan “Kota Wisata”, Jogja juga dikenal dengan julukan “Kota Batik”. Maka, tidak afdhol rasanya jika tidak membeli batik saat berkunjung ke Kota Yogyakarta.

Tapi, apa kamu tahu tentang Batik Jumputan? Batik Jumputan menjadi salah satu batik yang menambah khasanah perbatikan di Kota Yogyakarta. Batik ini tidak kalah indah dengan batik cetak maupun batik tulis yang sering kita temui. 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Batik Jumputan merupakan batik yang dibuat dengan menggunakan teknik “Jumputan”. Teknik Jumputan sebenarnya adalah teknik pewarnaan kain yang berasal dari Jepang yang biasa disebut Shibori. Teknik ini mula-mula dikerjakan dengan mengikat kencang beberapa bagian kain yang sudah dibentuk pola motif, lalu ditarik kencang dan dicelupkan kedalam pewarna batik.

Salah satu tempat wisata tersembunyi di Yogyakarta, yaitu Wisata Blusukan Kampung RT 11 (WIBLUKAM 11) Kecamatan Cokrodinigratan menjadi pengrajin Batik Jumputan di Yogyakarta. Batik Jumputan yang dibuat oleh ibu-ibu rumah tangga WIBLUKAM 11 ini dikenal dengan nama “Batik Jumputan Sewelas”. Kata Sewelas berarti Sebelas, yang menunjukkan RT 11 sebagai pembuatnya.

Batik ini masih tergolong pendatang baru karena baru dibuat pada tahun 2016 berbarengan dengan diresmikannya WIBLUKAM 11. Awalnya, ibu-ibu rumah tangga Kecamatan Cokrodiningratan mendapatkan pelatihan di tingkat Kota dimana pelatihan tersebut hanya beranggotakan RT 11,12,13 RW 03 Cokrodiningratan, Jetis. Pelatihan ini dihadiri sekitar 20 peserta dimana peserta dari RT 11 mendominasi jumlah peserta terbanyak.

Pelatihan diadakan selama 2 minggu. Setelah pelatihan itu selesai, ibu-ibu membawa hasil kerajinan batik tersebut ke rumahnya masing-masing. Ketua RT 11 Cokrodiningratan, Anwar Setiawantono lalu mengapresiasi hasil karya ibu-ibu ini dan kemudian menantang ibu-ibu untuk membuat ulang.

Ketua RT memberikan modal bahan kain, lalu meminta ibu-ibu untuk membuat batik Jumputan di RT 11. Hasil yang didapat ternyata memuaskan sehingga diangkatlah batik jumputan ini menjadi ikon wisata Wisata Blusukan Kampung RT 11 Cokrodiningratan.

Uniknya, Batik Jumputan Sewelas ini bukan hanya dikerjakan oleh ibu-ibu yang masih muda. Anggota Kelompok Batik Jumputan Sewelas diisi oleh ibu-ibu mulai umur 20 -80 tahun. Semua perempuan yang menjadi ibu rumah tangga diberdayakan untuk membuat ikon WIBLUKAM 11 ini.

Jumputan yang dibuat oleh Kelompok Batik Jumputan Sewelas ini menjumput kain menggunakan tiga alat, yaitu karet/benang/rafia. Setelah proses penjumputan selesai, maka kain dicelupkan pada pewarna batik. Hasilnya, kain yang telah dijumput tidak akan terkena pewarna batik dan bisa menghasilkan motif yang indah.

Pembeda jelas antara Batik Jumputan Sewelas dengan batik lainnya adalah teknik pembuatannya. Jika kain batik tulis dan batik cetak menggunakan “malam” untuk menghalangi warna agar tidak masuk kain saat pewarnaan, kalau batik jumputan menggunakan sebuah ikatan untuk menghalangi warna batik masuk kedalam kain. 

Batik Jumputan pun bukan hanya ada di Jogja. Ada daerah lain pula yang membuat batik Jumputan. Daerah lain umumnya menggunakan teknik jumputan ikat saja pada batik mereka. Namun, batik jumputan sewelas menggunakan motif-motif unik yang dibuat memakai benang/rafia/karet. Hasilnya, Kain Batik Jumputan Sewelas memiliki corak motif yang khas dan menambah keindahan dari batik jumputan yang sudah pernah ada di daerah lain.

Harga yang dipatok Batik Jumputan Sewelas per dua meternya berkisar antara 150-250 ribu, tergantung dengan tingkat kerumitan pembuatannya. Semakin rumit cara membuatnya, maka semakin mahal pula harga yang harus dibayarkan.

Batik Jumputan Sewelas hanya dijual sebagai kain saja, bukan sebagai pakaian atau pernik lain. Namun, Kelompok Batik Jumputan Sewelas sangat terbuka untuk menerima pesanan baju. Artinya, baju batik jumputan sewelas hanya dibuat pada saat ada yang pesan saja. Kalau tidak ada yang pesan, maka kelompok ini hanya membuat kain batik tanpa mengubahnya menjadi bentuk lain.

Saat ini, pemasaran yang dilakukan hanya melalui online dan membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para anggota kelompok untuk memasarkan sendiri-sendiri. Jika ada salah satu anggota kelompok yang menerima pesanan, pesanan tersebut dikerjakan bersama-sama dengan angota kelompok lainnya. 
 
Kelompok ini berjasama dengan Ibu Dayu, pengrajin Batik Lawasan Ijen, namun biasanya Batik Lawasan Ijen membawa bahannya sendiri dan hanya menitipkan pewarnaanya saja kepada kelompok Batik Jumputan Sewelas.

Biasanya, peminat batik yang diketuai oleh Siti Khuriyatul ini adalah wisatawan mancanegara yang sedang menginap di hotel sekitar WIBLUKAM 11. Mereka tertarik untuk mencari tahu batik ini karena adanya jejeran banner-banner yang dipajang sepanjang jalan kampung Cokrodiningratan RT 11.

Pengadopsian teknik Shibori dari Jepang ini digarap dengan apik dan dimodifikasi dengan indah oleh Kelompok Batik Jumputan Sewelas sehingga berhasil menjadi ikon WIBLUKAM 11 dan sangat patut dikantongi sebagai oleh-oleh khas dari Yogyakarta.  (Ayuseptiani Asari Putri)