DIY Editor : Ivan Aditya Jumat, 12 Oktober 2018 / 19:52 WIB

Perjalanan Kreator Jersey Lokal Bantul Rugi Ongkos Produksi, Berikan Name Fee Hingga Ekspor ke Meksiko dan Skotlandia

BANTUL, KRJOGJA.com - Reds Apparel saat ini menjadi salah satu brand jersey sepakbola lokal yang digemari para kolektor karena selalu menyuguhkan desain-desain menarik. Brand yang dimulai dari sebuah rumah di Banguntapan Bantul pada 2013 lalu tersebut kini menjadi buruan tak hanya di Indonesia saja namun hingga negara-negara di benua berbeda.

Namun begitu, ternyata tidak banyak yang tahu bahwa saat memulai usaha pada 2013 lalu, Reds mengalami kerugian yang terbilang tidak sedikit. Kala itu, tiga penggagasnya yakni Dwi Mei Sulistya, Adhi Nugraha dan Nugroho Susanto sempat harus mengeluarkan pundi-pundi Rupiah cukup banyak untuk menutup ongkos produksi jersey pertama tim profesional Persiba Bantul.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

“Dua sampai tiga tahun kami nombok, biaya produksi dan pendapatan dari penjualan jersey belum sebanding. Nominalnya cukup lumayan tapi kami tekad untuk terus berusaha, mungkin karena ini passion kami,” ungkap Dwi Mei Sulistya ketika berbincang dengan KRJOGJA.com, Jumat (12/10/2018).

Mencari bahan sendiri di toko kain seantero Yogyakarta yang sesuai kriteria hingga begadang merancang desain dilakukan Dwi Mei bersama dua rekannya hingga mendapatkan hasil yang tak mengkhianati proses. Reds berhasil memperoleh predikat cukup prestisius diantaranya 100 besar jersey terbaik dunia versi goalcom 3 kali berturut-turut sejak 2014 lalu, tepat setahun setelah bisnis dimulai.

Belum lagi, brand asli Bantul tersebut mendapat predikat jersey pertama asal Indonesia yang terpampang di etalase website kolektor jersey terbesar dunia, Classic Football Shirts (CFS). “Ada kebanggaan di situ, jersey kami diakui kolektor internasional. Karya anak Bantul bisa berbicara di tingkat nasional bahkan internasional,” ungkapnya tersenyum.

Basic dunia periklanan yang didapatkan Dwi Mei bersama rekannya, Adi Nugraha ternyata mampu diimplementasikan dalam desain-desain yang original dan otentik. Alhasil jersey-jersey yang dikenakan Persiba beberapa tahun terakhir menjadi perhatian dan dinantikan insan pengkoleksi jersey di berbagai daerah bahkan dunia.

“Kami punya fanpage Facebook dan Instagram yang kemudian ternyata diadd banyak kolektor jersey dari Indonesia bahkan luar negeri. Kami pernah harus mengirim produk ke Meksiko, Argentina, Canada hingga Skotlandia, memang jumlahnya tidak banyak, tapi bermakna sekali,” ungkapnya tersenyum.

Kesuksesan mendesain produk jersey otentik tak lantas membuat Reds melupakan kewajiban lain sebagai brand yang menaungi klub dengan pemain di dalamnya. Setiap sebuah jersey dengan tagname pemain laku terjual, Reds memberikan fee pada sang pemain tersebut.

“Beberapa tahun terakhir fee tersebut sangat bermakna, karena untuk tim Liga 2 bahkan sekarang Liga 3, gaji tidak begitu besar sehingga tambahan pendapatan dari jersey yang laku sangat bermanfaat. Kami mungkin salah satu yang pertama menerapkan name fee untuk pemain di Indonesia, semoga juga menginspirasi brand lainnya,” tandasnya.

Kini Reds tak hanya menangani klub lokal Bantul seperti Persiba saja. Pesanan hingga kontrak kerja dengan tim-tim lain mulai berdatangan silih berganti karena melihat desain-desain menarik yang ditawarkan.

Tercatat PSCS Cilacap, PPSM Magelang, Persijap Jepara (putri) hingga Persig Gunungkidul menggunakan produk Reds yang asli Bantul. Kedepan, harapan untuk menangani tim besar agar semakin dikenal luas pun diusung Dwi Mei dan kawan-kawan sekaligus menunjukkan kualitas karya anak-anak muda.

Pengalaman Reds mengirimkan barang ke luar negeri pun tak kalah menarik untuk diceritakan menurut Dwi Mei. “Harga jersey sama ongkos kirimnya lebih mahal ongkosnya antara Rp 300-500 ribu padahal jerseynya Rp 200 ribuan, tapi pembelinya mau. Jadi menarik saja mereka mau bayar mahal untuk jersey kami,” kenangnya.

Tak heran bahwa saat ini Reds begitu mengandalkan jasa logistik untuk menunjang pergerakan bisnis jersey tersebut. Sistem preorder yang diberlakukan bagi siapa saja yang ingin memesan jersey membuat Reds begitu mempercayakan distribusi produknya melalui jasa logistik.

“Kami mengirim hampir ke seluruh daerah di Indonesia pernah, ya pakai jasa logistik semuanya. Tapi memang berdasar permintaan konsumen, JNE juga sering karena jangkauannya luas jadi membantu, namun biasanya tetap kami sesuaikan permintaan pemesan, kami mengikuti,” imbuh Dwi Mei. (Fxh)