Jateng Editor : Ivan Aditya Jumat, 12 Oktober 2018 / 19:32 WIB

JASA TOTO SUGIHARTO

Kopi Seplawan Tumpuan Kesejahteraan Petani Donorejo

PURWOREJO, KRJOGJA.com - Kebiasaan minum kopi menjadi tren masyarakat beberapa tahun terakhir. Kedai dan kafe yang menyuguhkan kopi bertebaran di seantero negeri. Tren itu turut membawa efek hingga ke petani kopi.

Tren menjadi peluang bagi mereka untuk meningkatkan pendapatan. Namun siapa sangka, nasib petani justru tidak terangkat karena jeratan tengkulak. Pedagang perantara membeli kopi dengan harga murah, tidak sebanding dengan harga jual segelas minumannya.

Kondisi itu dialami para petani di Desa Donorejo Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo yang membudidayakan kopi Robusta. Mendapat harga pembelian antara Rp 18.000 - Rp 20.000 perkilogram untuk green bean atau beras kopi, petani sudah beruntung.

Petani tidak paham tren pasar kopi apalagi menguasai cara mengolah biji setelah panen. Mereka memproses biji secara tradisional tidak memperhatikan standar. Kopi yang dipetik masih campuran tanpa sortasi dan diolah asal-asalan.

Melihat situasi itu, Toto Sugiharto, tokoh petani setempat merasa prihatin. Ia melihat Donorejo memiliki potensi yang besar sebagai penghasil kopi berkualitas unggulan. "Saya melihat petani punya kemampuan, kopi di Donorejo itu ada sejarahnya," tuturnya kepada KRJOGJA.com, Jumat (12/10/2018).

Budidaya kopi di desa yang terletak pada ketinggian kurang lebih 700 meter diatas permukaan laut itu, dimulai zaman kolonial Belanda. Mereka menanam kopi di tanah kapur di puncak dan lereng Perbukitan Menoreh itu.

Namun setelah merdeka, kopi tidak dibudidayakan secara optimal. "Penuturan orang tua, kopi sudah ada sejak sebelum merdeka. Sepengetahuan saya juga, Belanda paham betul kualitas kopi, sayang setelah merdeka tidak dibudidayakan maksimal," terangnya.

Hobi ngopi membuat Toto memiliki keinginan kuat untuk membela petani Donorejo. Hobi itu juga yang membuatnya memiliki jaringan luas di kalangan komunitas kopi, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kesempatan itu tidak disia-siakan.

Toto mengundang beberapa pegiat kopi mulai pemilik kafe, barista hingga pedagang datang ke Donorejo. "Kami kerjasama, pegiat kopi melatih petani, lalu mereka boleh membeli biji dengan harga bersaing. Pelatihan intensif selama dua tahun terakhir," ungkapnya.

Toto mendirikan kelompok tani dan UMKM Wira Tani Mandiri dengan anggota sebelas petani. Kelompok mampu memproduksi hingga sembilan ton biji sekali panen. Setelah pelatihan berhasil, harga jual membaik menjadi rata-rata Rp 40.000 - Rp 45.000 perkilogram green bean.

Toto pun tidak hanya bergelut melatih petani, ia mengeluarkan produk sendiri dengan branding Kopi Seplawan. Seplawan diambil dari nama objek wisata gua di Donorejo. "Lewat produk ini saya ingin mengangkat nama lokal, Seplawan sudah dikenal di mana-mana, begitu dengar nama itu pasti ingat Purworejo," katanya.

Kopi Seplawan hanya mengolah kopi hasil panen petani setempat. Toto memproduksi green bean, biji sangrai, bubuk kopi siap seduh hingga kopi seduh dingin (coldbrew). Merek itu mulai dikenalkan ke publik tahun 2017.

Toto mulai ikut pameran dan kompetisi untuk mengenalkan kopi Donorejo. Ia meyakini produk Purworejo itu mampu bersaing karena telah diproses sesuai standar. "Penikmat kopi merespons positif Kopi Seplawan, mereka bilang kualitas bagus dan bisa diterima pasar," ucapnya.

Tidak cukup dengan pameran dan kompetisi kopi, Toto menggenjot pemasaran lewat media sosial dengan penjualan online. Hasilnya di luar dugaan, pasar mau menerima dengan baik. Bahkan transaksi online mencapai 40 persen dari total penjualan kopi. Setiap bulan, Kopi Seplawan menjual hingga 250 kilogram biji sangrai.

Kopi Seplawan tidak bisa lepas dari bisnis logistik. Adanya transaksi membuat pengiriman produk lewat jasa logistik meningkat setiap bulan. "Beberapa jasa logistik saya pakai, termasuk layanan JNE. Sejauh ini untuk JNE belum pernah ada komplain dari konsumen," tegasnya.

Jasa logistik sudah menjadi kebutuhan pokok Toto untuk memperlancar usaha Kopi Seplawan. Bayangkan saja, pesanan datang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan dari Perth Australia. Butuh modal yang besar untuk buka gerai atau kirim pesanan sendiri hingga ke luar negeri. "Bisnis produk sekarang tidak bisa lepas dari jasa logistik. Bagaimana usaha bisa besar kalau distribusi barang tidak lancar," katanya.

Peran jasa logistik termasuk JNE secara tidak langsung membantu mensejahterakan petani kopi di Donorejo. "Semua ada keterkaitannya, ada multiplier efek yang saya rasakan dari kemudahan pengiriman barang, sehingga modal berputar. Perputaran itu akan sampai juga dan dinikmati petani," paparnya.

Sementara itu, petani kopi UMKM Wira Tani Mandiri Karyono mengemukakan, pelatihan budidaya dan pascapanen kopi membuka wawasannya tentang bisnis minuman berkelas. Selama ini, ia dan petani lain tidak tahu jika di pasaran harga kopi berkualitas bagus bisa sangat mahal. "Saya yakin kopi Donorejo tidak kalah kualitasnya, diantaranya karena kami budidaya secara organik," ujarnya.

Namun ketidaktahuan itu membuat petani dipermainkan pedagang. Mereka membeli dengan harga tidak sesuai harapan. "Tetapi itu cerita lalu, sebelum kami dilatih dan dikenalkan dengan peluang usaha kopi yang sesungguhnya oleh Toto Sugiharto. Sekarang kopi bisa jadi tumpuan kesejahteraan petani Donorejo," tandasnya. (Jas)