Ragam Editor : Agus Sigit Kamis, 11 Oktober 2018 / 13:45 WIB

Pernah Dengar Hantu Keranda? Berikut Salah Satu Kisahnya..

Hantu keranda atau rombongan pengantar jenazah pasti populer khususnya didesa-desa. Banyak yang pernah mengalami atau melihat langsung penampakan jkeranda berjalan atau bahkan lengkap bersama para pengiringnya. Konon wilayah atau kampung yang dilewati lelembut jenis ini akan mengalami sripah atau kematian pada salah satu warganya.

 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

SUATU hari di kampung saya ada berita menyedihkan. Salah satu warga meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas di Jakarta. Langsung dibawa pulang ke kampung halaman ke desa. Sejak ada kabar itu suasana di desa berubah menjadi mencekam.

Sore harinya jenazah tersebut tiba di rumah kediaman dan untuk sementara diinapkan karena sesuatu hal. Siang esoknya, jenazah baru akan dimakamkan.

Setelah acara pemakaman, malam hari suasana terasa sangat sepi. Sekitar pukul dua malam Pakdhe Ton (bukan nama sebenarnya) pulang dari rumah saudaranya. Ia harus melewati depan rumah warga yang baru meninggal itu. Pakdhe Ton sendirian berjalan kaki. Setelah beberapa meter melintasi rumah itu, ia mendengar suara orang di belakangnya dan jumlahnya sangat banyak.

Suaranya mendengung, tak jelas apa yang dilafalkan. Pakdhe Ton menengok ke belakang, gandrik! Sejumlah sosok sedang menggotong keranda mayat.

Pakdhe Ton berdiri kaku tak bisa bergerak. Tubuhnya gemetar ketakutan. Rombongan itu melewati Pakdhe Ton, seakan tidak memedulikannya. Suaranya sangat menakutkan.

Pakdhe Ton lalu melihat keranda mayat yang digotong tanpa kain penutup. Di dalamnya terlihat sosok terbungkus kain putih kumal. Tercium bau bangkai menyengat dari sosok putih itu. Yang lebih menyeramkan, para pengiringnya berjubah hitam dengan wajah seperti tengkorak hitam menyeramkan. Mereka tidak berjalan melangkah seperti manusia tetapi terbang.

Pakdhe Ton berusaha meneruskan perjalanan pulang dengan jantung berdebar kencang. Rasa takut sangat memberatkan langkah kakinya. Namun bagi warga setempat, mereka mempunyai keyakinan bahwa jika melihat hantu pengiring jenazah, harus ikut mengantar hingga ke ujung atau perbatasan desa, alasannya agar tidak ada warga yang meninggal di desa mereka sendiri. Pakdhe Ton terus berjalan mengikuti rombongan jenazah itu sampai batas desa, padahal rumahnya sudah terlewat jauh.

Setelah sampai di batas desa, tepatnya di pertigaan jalan, rombongan hantu pengiring jenazah itu terus berjalan menuju desa tetangga. Dan saat itu juga Pakdhe Ton membelokkan arahnya ke sebuah warung yang berada di pojok pertigaan jalan itu. Warung itu sudah tutup. Pakdhe Ton membangunkan pemilik warung dan menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

Dan yang membuat misteri ini terbukti kebenarannya adalah keesokan harinya ada warga meninggal di desa tetangga yang dituju rombongan hantu pengiring jenazah itu! (Harianmerapi)