Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Kamis, 11 Oktober 2018 / 09:40 WIB

Benthik jadi Warisan Budaya Takbenda Nasional

JAKARTA, KRJOGJA.com - Era tahun 1990an, permainan anak tradisional benthik masih begitu diminati. Namun di era milenial ini, permainan tersebut hampir tidak lagi dikenali anak-anak yang lebih suntuk dengan gawainya. 

Kendati asal-usul permainan ini kurang diketahui pasti, tapi keberadaannya sangat populer di kalangan masyarakat DIY. Permainan tersebut biasanya dilakukan anak-anak pedesaan saat siang hari. Dimainkan dengan dua ranting kayu berukuran panjang (sekitar 30 cm) disebut 'benthong' dan ukuran pendek (sekitar 10 cm) dikenal dengan 'janak'.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Hal itulah yang kemudian menginspirasi Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaan DIY melakukan kajian terhadap permainan anak tradisional tersebut untuk kemudian didaftarkan guna mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) secara nasional. 

Pada tahun 2018 ini, permainan yang sudah dikenal di DIY sejak jaman dulu dengan domain tradisi dan ekspresi lisan resmi ditetapkan Kemendikbud RI sebagai WBTb Nasional asal DIY dalam acara Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2018 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (10/10) malam.

Penyerahan tersebut dilakukan Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid mewakili Mendikbud RI Muhadjir Effendy yang diterima langsung Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Turut hadir langsung dalam kesempatan ini Asisten Keistimewaan Setda DIY Didik Purwadi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan yang juga Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY Budi Wibowo, Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo dan juga putri bungsu Sri Sultan HB X, GKR Bendara.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Ditjen Kebudayaan Kemendikbud DIY Nadjamuddin Ramly menegaskan, dengan penetapan karya budaya ini diharapkan Indonesia dapat mewujudkan harapan sebagai negeri adidaya di bidang kebudayaan. Penetapan ini juga upaya memberikan perlindungan pada karya budaya seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden No 78 Tahun 2007 yang mendorong pencatatan karya budaya Indonesia.

"Karya Budaya Takbenda yang ditetapkan merupakan Budaya Takbenda yabg ada di Indonesia sesuai Konvensi UNESCO Tahun 2003. Dengan pelindungan ini harapannya karya budaya tidak hilang, punah dan dapat diwariskan bagi generasi mendatang" ucap Nadjamuddin.

Pada kesempatan ini, DIY berhasil mempertahankan prestasi sebagai daerah peraih penghargaan terbanyak dengan penetapan 27 WBTb. Jumlah tersebut terus meningkat dibanding tahun sebelumnya dengan 18 WBTb pada 2017 dan 9 WBTb tahun 20016. 

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud RI Hilmar Farid menjelaskan, sejak 2009-2018 pihaknya telah mencatat sebanyak 8.065 karya budaya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 819 sudah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia termasuk 225 karya budaya pada 2018 ini. (Feb/Ati)