Jateng Editor : Ivan Aditya Rabu, 10 Oktober 2018 / 14:12 WIB

Ali Mufiz Tawarkan Kromo Inggil untuk Redam Ujaran Kebencian

SEMARANG, KRJOGJA.com - Mantan Gubernur Jawa Tengah KH Ali Mufiz menawarkan penggunaan bahasa Jawa ‘kromo inggil’ atau bahasa Jawa halus sebagai percakapan di media sosial. Tawaran tersebut dikemukakan untuk meredam meluasnya unggahan berisi ujaran kebencian dan saling memaki di ranah medsos.

Ali Mufiz yang kini aktif sebagai Ketua Wantim MUI Jawa Tengah menyampaikan hal tersebut saat berbicara pada peresmian kelulusan mahasiswa peserta Sekolah Jurnalistik di Universitas Islam Sultang Agung Semarang, Rabu (10/10/2018). Menurutnya, bahasa Jawa memang tidak egaliter, tapi bisa mendidik seseorang berkarakter dengan rendah hati, bertutur halus, sekaligus menghormati orang lain.

"Saya tidak pernah mendengar orang marah-marah dengan menggunakan bahasa Jawa 'kromo inggil' karena di dalamnya ada rasa untuk menghormati pihak lain," ujarnya.

Dia menjelaskan, bahasa selalu dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat sehingga ketika berkomunikasi, pengguna bahasa selalu berusaha menekankan pesannya melalui diksi yang dipilih dalam tuturannya. Ia memberi contoh penggunaan kata ganti ‘kamu’ dalam bahasa Jawa yang memiliki gradasi, mulai dari kasar hingga halus demi menghormati lawan bicara.

“Kata ‘kowe’ (kamu), cenderung dihindari karena selain terkesan merendahkan, artinya juga tidak tepat untuk menunjuk lawan bicara seorang manusia. Kata ‘kowe’,” ujar Pakar Komunikasi Politik dalam bahasa Jawa artinya kera.

Dalam derajat kata ganti ‘kamu’, menurut dia, orang Jawa memilih menggunakan kata ‘sampeyan’, ‘panjenengan’, bahkan ada yang menggunakan kata ‘pangeran’ juga ‘gusti’. "Pemilihan diksi tersebut (bukan 'kowe') digunakan untuk menghormati pihak lain," katanya.

Ali Mufiz mengaku gusar dengan makin meluasnya ujaran kebencian yang diamplifikasi melalui media sosial sehingga bisa dimaklumi bila ada negara yang mencari jalan pintas dengan menggagas penutupan mesin pencari Google. Ia menjelaskan bahasa merupakan salah satu media dalam pembentukan karakter bangsa sehingga sudah seharusnya bahasa diperlakukan sebagai alat komunikasi dengan tujuan kebajikan.

"Apa mereka (penyebar ujaran kebencian) tidak sadar kalau pesan itu bisa melukai orang lain, kecuali (unggahan) itu memang direncanakan (by designed)," ujarnya.

Ia mengingatkan, kata-kata itu tidak bebas nilai sehingga penggunanya pun harus sadar bahwa setiap pilihan kata membawa konsekuensi. (Isi)