Hiburan Editor : Didi Nur Kartiyono Senin, 03 September 2018 / 21:17 WIB

Kesetiaan Kader

KARIER Gembus di dunia politik semakin menanjak dengan diikutsertakan dalam seleksi kader terbaik.
Namun, untuk mencapainya tentu saja tidak semudah bersin. Gembus berkumpul bersama empat belas kader pilihan. Kesetiaan adalah harga paling mahal, demikian pidato ketua Partai Aduhai. Oleh karena itu, wawancara kali ini untuk memilih kader yang pantas mencalonkan diri untuk duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Rakyat Lucu, dari fraksi Partai Aduhai untuk daerah pemilihan Kabupaten Cengar, Kabupaten Cengir.

“Kalian siap?!”

“Siap!” jawab lima belas kader kompak.

“Kalau begitu selamat datang. Sekarang minum air di dalam gelas di meja kalian, tunjukkan kesetiaan kalian! Orang yang setia, akan menuruti perintah apa pun yang diberikan,” kata ketua Partai Aduhai, tegas.


Satu persatu kader minum disaksikan sejumlah senior. Ada yang dengan sekali tenggak. Ada yang dengan menutup hidung seperti menghadapi jamu paling pahit. Ada yang celingak-celinguk lebih dahulu seperti kambing kehilangan arah hidup. Ada yang menahan mual muntah dan menelan kembali muntahannya sebelum keluar dari mulut.

Kurang dari satu menit, bereslah empat belas kader meminum air kesetiaan partai. Tetapi, malah tidak dengan Gembus. Dia hanya menengok sebentar isi gelas, kemudian mendiamkannya. Sungguh sikap yang bisa berakibat buruk pada kariernya di partai politik. Ketua Partai Aduhai jelas saja marah melihat sikap kader Gembus yang belum apa-apa sudah berani menentang. Empat belas temannya, tahu sikap sahabat batin partai sedemikian, segera mendesak Gembus agar segera meminum segelas air kesetiaan.

Rasanya segar, kata teman sebelahnya, seperti jus. Tidak apa. Jangan sia-siakan kesempatan ini, kata temannya lagi, demi masa depan. Gembus tetap membangkang.

“Kenapa kamu tidak mau? Kamu tidak setia kepada partai?!” bentak ketua Partai Aduhai.

“Siap! Saya setia kepada partai, tetapi lebih setia kepada akal sehat. Saya tidak mau meminum segelas air bercampur kencing yang baunya saja mirip kencing kuda.”

“Ha-ha-ha,” ketua Partai Aduhai tertawa sampai membungkuk dan berair mata. “Baik, baik, kalau begitu, kamulah yang kami cari. Kamu yang paling waras di antara empat belas kader sinting yang lain, yang mau-maunya minum air kencing. Selamat datang di Partai Aduhai, selamat datang. Mau apa kopi, susu, atau kopi susu? Kalau kopi bikin melek, kalau susu bikin merem, kalau kopi susu bikin merem melek,” ketua Partai senang sekali mendapat kader sejujur ini. q –g