Ekonomi Editor : Agung Purwandono Senin, 01 Oktober 2018 / 01:25 WIB

Ais, Sukses Berwirausaha Setelah Terpuruk Karena Orang Tua Berpisah

KETIKA sebagian anak muda sebayanya menggunakan waktu luangnya untuk bersantai, Azizah Safira (19) menggunakannya untuk berwirausaha. Semangat bangkit dari keterpurukan karena keluarga yang broken home membuatnya lebih mandiri

Senja menyentuh rooftop Lippo Plaza Mall. Tempat yang dikenal dengan Seven Sky ini mulai dipenuhi oleh anak muda. Stan-stan makanan mulai ramai dengan beragam aroma masakan yang bermacam-macam.

Di antara mereka terdapat satu anak muda yang sibuk melayani orang-orang sebayanya. Ia adalah Azizah Safira (19). Gadis yang biasa dipanggil Ais ini merupakan salah satu pemilik tempat makan kekinian berupa nasi ayam popcorn bernama Chickpop.

Sejak kelas 2 SMP, Ais sudah memulai hidup sebagai anak yang orang tuanya berpisah. Setiap hari Ais menangis walau ayahnya yang tidak lagi serumah dengannya masih sering mengunjunginya. 

Teman-teman dan saudara Ais selalu mendukungnya hingga tersadar bahwa ia tidak boleh patah semangat. Ais pun mulai meneruskan hobinya di bidang musik. Sejak SD, Ais memang sudah mahir bermain gitar dan tergabung ke dalam beberapa grup band.

Ais dan band-nya pun pernah tampil menjadi bintang tamu bersama Letto di Kepulauan Riau ketika acara Jambore Pemuda Indonesia 2015 oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Baca Juga : 

Murid Romo Mangun ini Berkarya dari Atas Kursi Roda

Ketika lulus dari SMTI Yogyakarta Jurusan Kimia Industri, Ais sempat bingung ingin melanjutkan kuliah atau bekerja. Ais pun magang di suatu perusahaan selama 6 bulan.

“Selesai magang, aku berpikir gimana caranya agar nggak diem aja soalnya kegiatanku cuma bantu Mama jadi event organizer dan catering. Akhirnya, karena Mamaku bilang kalau stan di Seven Sky masih sedikit, aku mencoba membuka usaha dengan harga sewa tempat yang paling murah di sana,” papar Ais.

Berawal dari hobinya yang senang memasak camilan, Ais memulai inovasi produk yang akan dijual berupa ayam dipotong dadu, dibalut tepung, digoreng, serta ditaburi bumbu berbagai rasa seperti barbeque, pitza, keju, balado, dan jagung.

“Aku pengen menjual produk yang praktis dan simpel, mengenyangkan, berbagai pilihan rasa, tapi bisa dimakan sambil dibawa kemana-mana. Makanya kemasannya pakai mangkuk kecil seperti ini,” jelas Ais sembari mempelihatkan produknya.

Ia menggunakan upah magang dan tambahan dana dari ibunya untuk modal awal usahanya. Seperti kebanyakan bisnis yang lainnya, pada awalnya Ais mengalami untung-rugi yang tidak pasti. Hal itu tidak membuat Ais menyerah hingga usahanya sampai kini cukup berkembang.

Di usianya yang masih belia, kini Ais sudah memiliki usaha sendiri dengan omset 12 juta rupiah per bulan. Ais juga memiliki tiga karyawan walau usahanya ini belum ada cabangnya. Ia ingin memberikan lapangan pekerjaan untuk teman-temannya. Terkadang, usaha Ais dapat ditemui di event kuliner seperti pameran dan festival yang ada di Yogyakarta.

Selain berwirausaha, Ais juga menjadi guru les privat gitar. Ais juga masih aktif pentas di panggung bersama salah satu band-nya yang bernama Danger Esterella.

Sekarang Ais berkuliah di Universitas Sarjana Tamansiswa jurusan Teknik Industri. Ia memutuskan untuk berkuliah karena ia ingin bekerja di perusahaan tempat ia magang. Ais membiayai kuliahnya menggunakan hasil dari berwirausaha, mengajar, dan pentas musik.

“Aku dulunya memang down dan bingung mau melakukan apa, tapi kalau kita terus berusaha dan semangat buat menjalaninya, pasti Allah akan menunjukkan jalannya, yang penting kita terus berusaha,” pungkas Ais. (Ayuningtyas Rachmasari)