Ragam Editor : Agung Purwandono Kamis, 27 September 2018 / 15:29 WIB

Tinggal Seorang Diri, Nunuk Berharap Sembuh

SAAT ditemui di kediamannya di Kecamatan Jetis, Cokrodiningrat, Yogyakarta, Nunuk (63) atau yang akrab dipanggil Buk Nuk sedang berbaring di dalam kamarnya. Dengan perlahan dan tertatih  ia berjalan keluar menuju pintu untuk menyambut saya. Sosoknya yang sering saya temui sehari-hari masih sama, ramah dan senang bercerita. 

Di rumah kontrakan yang hanya seluas 3x6 meter ini Nunuk tinggal sendiri. Ia tidak pernah menikah sama sekali, sehingga di hari tuanya saat ini, Nunuk seringkali merasa kesepian. Kedua orangtuanya telah lama meninggal dan kedua adiknya tinggal di kota lain. 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Baca Juga : 

Komikus Indonesia yang Satu Ini Sudah Mendunia, Siapa Dia?
Mahasiswi UPN Veteran Yogya ini Ternyata Penembak Jitu
Sarwidi, Penyelamat Penyu dari Pantai Pelangi

Nunuk sudah tinggal sendiri semenjak masih belia. Ia memutuskan untuk pindah dari kampung halamannya di Magelang ke Yogyakarta. Ia memilih hidup mandiri dengan hanya mengandalkan dirinya sendiri. 

Keadaan keluarganya yang tidak berada ditambah perceraian kedua orangtuanya membentuk Nunuk menjadi seorang wanita tangguh dan berani. Tanpa sanak saudara dan perbekalan yang cukup, ia mengadu nasib di daerah istimewa ini.

Nunuk baik-baik saja hidup seorang diri sampai akhirnya cobaan itu datang. Tiga tahun lalu, Nunuk mengalami peristiwa naas yang menyebabkan kaki kirinya mengalami patah dan keretakan tulang yang sangat parah. 

Saat itu malam hari dan kebetulan sedang mati lampu. Nunuk yang sedang tidak enak badan memutuskan untuk membeli obat ke warung. Saat tengah berjalan, Nunuk tiba-tiba ditabrak oleh sepeda motor dari belakang. Masih terekam jelas kejadian itu dibenaknya. Gelap dan menyakitkan. 

Sampai saat ini, meski sudah menjalani berbagai macam pengobatan, kakinya  belum kunjung sembuh. Kepada saya Nunuk mengaku meskipun ia selalu mencoba bersabar, terkadang ia juga merasa hampir putus asa. 

“Kadang kalau malam saya suka sedih, nangis. Ya Allah kenapa saya ndak sembuh-sembuh. Tapi ndak lama, saya sadar lagi bahwa ini takdir Allah dan memang begitulah hidup, penuh cobaan,” ujarnya.

Nunuk berkata, meski kelam, kecelakaan yang dialaminya telah membawa suatu dampak yang sangat berarti bagi hidupnya. Kejadian tersebut menjadi titik balik baginya untuk lebih mengenal Tuhan dan belajar agama Islam. 

Meski sudah beragama Islam sejak lahir, Nunuk mengaku sangat jauh dari ajaran Islam. Sekarang, ia mengaku memiliki waktu lebih banyak untuk melaksanankan sholat, belajar mengaji dan beribadah dengan khusyuk. 

“Kalau ndak dikasih sakit begini, mungkin sampai sekarang saya masih jauh dari Allah. Yah Alhamdulillah semua ada hikmahnya,” pungkasnya.

Sifat mandiri wanita tua yang gemar membaca koran in tidak pernah hilang meski sekarang dirinya dipenuhi keterbatasan. Setiap dua minggu sekali, ia pergi seorang diri menggunakan ojek untuk melakukan kontrol kakinya di Sardjito. Namun, belakangan ia merasa agak kerepotan.

Pasalnya, untuk kontrol, pertama ia harus ke puskesmas terlebih dahulu untuk meminta rujukan, kemudian ke RSUD dan baru ke Sardjito. “Padahal dulu ndak gitu. Tapi, yah, kalau peraturannya udah begitu mau gimana lagi. Ndakpapa, yang penting biar bisa cepat sembuh,” pungkasnya. Untuk makan, mencuci dan aktivitas rumah lainnya pun tetap Nunuk lakukan sendiri. 

Sebenarnya, Nunuk bisa saja meminta bantuan tetangga sekitar rumahnya. Akan tetapi, selagi masih bisa ia lakukan sendiri, ia tidak ingin merepotkan orang lain.

Saat ini Nanuk tidak bekerja, ia hanya mengandalkan kiriman dari adiknya di luar kota. Harapan Nanuk untuk sembuh tidak pernah pudar. Ia bertekad untuk mengembalikan kehidupannya seperti semula, di mana ia bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri. Ia juga ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat dan bisa membantu orang lain.

”Selepas ini saya harus bangkit kembali, hidup harus terus berlanjut. Saya ingin mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Kalau untuk kampung ini (Jetis) saya punya keinginan berbuat sesuatu, tapi fisik sudah tua ndak memungkinkan. Tapi saya akan bantu tetangga-tetangga dengan apa yang saya punya dan saya bisa bantu,” tutupnya. (Garin Essyad Aulia)