DIY Editor : Agus Sigit Sabtu, 22 September 2018 / 23:11 WIB

Target Lumbung Pangan Dunia Terganjal Konversi Sawah dan Cuaca

YOGYA, KRJOGJA.com - Indonesia mampu mencapai target sebagai lumbung pangan dunia, namun tantangan yang dihadapi cukup serius. Antara lain perubahan iklim, konversi lahan, laju pertambahan penduduk yang masih tinggi dan status lahan.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementerian Pertanian, Prof Dr Ir Dedi Nursyamsi MSc mengatakan, perubahan iklim mambawa pengaruh bagi pertanian. Cuaca yang tidak terprakirakan (unpredictable) dan iklim ekstrem dalam bentuk curah hujan tinggi bisa menyebabkan banjir, longsor dan pemasaman tanah. Sedangkan kemarau panjang bisa menyebabkan kekeringan tanah dan kebakaran.

"Cuaca yang tidak terprakirakan ini menyebabkan ketidakpastian usaha tani," kata Dedi dalam Seminar Nasional Hasil Pertanian Fakultas Pertanian UGM di Auditorium Prof Harjono Danoesastro, Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta, Sabtu (22/9). Seminar menghadirkan pembicara lain, Ketua Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM Dr Ir Benito Heru Purwanto MAgrSc dan Guru Besar bidang Ekologi, Fakultas Pertanian, Universitas Shizuoka Jepang, Prof Masayuki Yamashita.

Kemudian potensi tanah untuk ekstensifikasi pertanian, menurut Dedi, juga menghadapi tantangan berupa alih fungsi (konversi) lahan pertanian. Data Pusdatin 2017, lahan pertanian untuk perkebunan di Indonesia seluas 23 juta ha, lahan kering/tegalan 17 juta ha, lahan sawah 8,1 ha dan lahan terlantar 12 juta ha. Sedangkan laju konversi lahan sawah di Indonesia mencapai 96.500 ha/tahun. "Pencetakan sawah masih jauh lebih kecil dari konversi lahan yang terjadi," katanya. Dengan laju konversi 96.000 ha/tahun, maka untuk mencapai luas lahan sawah 10,1 juta ha pada tahun 2045, diperlukan ekstensifikasi seluas 165.000 ha/tahun.

Berbagai tantangan tersebut memerlukan komitmen lintas sektoral, bukan hanya komitmen Kementerian Pertanian. "Sumberdaya lahan semakin terbatas, sehingga selain ekstensifikasi dan intensifikasi, diperlukan langkah-Iangkah yang lebih konkret untuk penanggulangan konversi lahan pertanian, seperti teknologi intensifikasi pertanian atau adaptasi terhadap perubahan iklim," kata Dedi.

Benito Heru Purwanto mengatakan, Internet of Things (IoT) dapat menjadi satu pilar bagi pertanian di masa depan. Integrasi teknologi digital ke dalam pertanian akan mengoptimalkan penggunaan lahan, pupuk dan air, Selain itu bisa mengurangi biaya produksi dan mengurangi potensi kegagalan produksi. "Dibutuhkan kebijakan pemerintah secara nasional yang membantu perkembangan dan kecepatan difusi IoT di lapangan dalam skala luas oleh petani," katanya. (Dev)