Pemerintah RI Minta Malaysia Jamin Keamanan Nelayan WNI

Ilustrasi

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menyusul kabar mengenai penculikan dua nelayan WNI di perairan Semporna, Sabah, pada 11 September 2018, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi meminta pemerintah Malaysia untuk menjamin keamanan para tenaga kerja Indonesia sektor perikanan yang bekerja di kawasan perairan Negeri Jiran tersebut.

Hal itu diutarakan oleh Menlu Retno dalam sambungan komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Malaysia Saifullah Abdullah pada hari yang sama ketika kabar penculikan dua nelayan WNI mencuat.

"Pada 11 September, Menteri Luar Negeri RI telah melakukan komunikasi dengan Menlu Malaysia guna menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kejadian tersebut dan meminta jaminan keamanan bagi WNI yang bekerja di wilayah Sabah, khususnya yang bekerja sebagai nelayan," demikian pernyataan tertulis dari Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu RI Lalu Muhammad Iqbal, Jumat (14/9/2018).

Menlu Retno juga telah "memerintahkan Konsul RI di Tawau berkunjung ke Semporna guna bertemu otoritas keamanan setempat, pemilik kapal dan saksi pelapor guna memverifikasi informasi tersebut dan meminta keterangan tambahan."

"Pemerintah akan melakukan upaya-upaya perlindungan bagi kedua WNI yang menjadi korban kasus penculikan terbaru itu, sebagaimana yang dilakukan terhadap 11 nelayan WNI yang diculik di perairan Sabah sebelumnya," lanjut keterangan tertulis itu.

Sebelumnya, dua nelayan Indonesia dilaporkan diduga diculik di perairan Semporna, sebuah kota di Sabah, Malaysia, dalam sebuah jam malam, sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat pada Selasa 11 September 2018, menurut laporan outlet surat kabar Singapura. Kasus itu telah dikonfirmasi oleh otoritas Malaysia, KBRI Kuala Lumpur, dan KRI Tawau.

Pihak KBRI Kuala Lumpur memastikan bahwa dua nelayan yang diculik berstatus sebagai WNI, berinisial SS dan UY, berasal dari Provinsi Sulawesi Barat.

Menurut sumber, empat awak kapal nelayan baru saja berlabuh di dermaga Pulau Gaya di Semporna.

Telah diketahui bahwa sekitar jam 01.00 dini hari, salah satu anggota kru mendengar suara mesin perahu pompa yang mendekat dan pasokan listrik kapal mereka tiba-tiba terputus.

Dua dari awak kapal, yang bersembunyi di dalam kompartemen kapal penangkap ikan, mendengar orang-orang yang berbicara dalam logat Sulu (kemungkinan besar orang Filipina) dan melalui lubang, melihat dua orang bersenjata dari kelompok itu.

Sekitar satu jam kemudian, dua nelayan keluar dari persembunyian tetapi menemukan dua teman mereka hilang, beserta sistem komunikasi radio kapal, demikian seperti dilansir The Strait Times, Selasa, 11 September 2018.(*)

Tulis Komentar Anda