Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 14 September 2018 / 23:35 WIB

Badai Florence Mulai Hantam Carolina

PULUHAN ribu rumah mengalami pemadaman listrik dan air laut mulai menggenangi sejumlah ruas jalan di pesisir Pantai Timur AS ketika Badai Florence mulai menghantam kawasan itu.

Badai Florence, yang disebut sebagai paling kuat di negara bagian North dan South Carolina selama hampir 30 tahun, bergerak menuju daratan dengan kecepatan angin 150km/jam secara berkelanjutan.

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Para pejabat setempat memperingatkan bahwa 'Monster badai' Florence dapat membahayakan jiwa "banyak orang" dan beresiko melahirkan "malapetaka" banjir bandang.

Otoritas terkait telah memerintahkan setidaknya satu juta orang untuk mengungsi ke wilayah yang dianggap aman.

Gubernur North Carolina, yang merupakan wilayah pertama terdampak badai ini, mengatakan kehadiran badai akan menjadi ujian "ketahanan, kerja tim, akal sehat, dan kesabaran" semua warganya.

"Badai mulai menyerang kita, tapi masih ada hari-hari berikutnya," kata Roy Cooper, Gubernur North Carolina.

Diperkirakan wilayah North Carolina akan diterpa selama delapan bulan yang ditandai turunnya hujan setiap dua atau tiga hari.

Mengapa badai Florence berbahaya?

Kondisi mulai memburuk terjadi sepanjang hari Kamis. Beberapa wilayah di Carolina Utara mulai diguyur hujan yang berlangsung beberapa jam, dan permukaan laut mengalami kenaikan dan meluber ke daratan.

Pada pukul 23.00 waktu setempat, National Hurricane Center (NHC) mengatakan kecepatan angin sedikit menurun, sehingga Kategori badainya turun ke angka satu.

NHC mengatakan, walaupun ada penurunan kekuatan angin secara bertahap, badai ini tetap sangat berbahaya karena tingginya volume curah hujan dan gelombang badai.

"Banjir yang menghantam daratan telah membunuh banyak orang, dan sayangnya, itulah yang akan kita saksikan," kata Brock Long, kepala Badan Manajemen Darurat Federal (Fema).

Dia mengatakan bahwa orang-orang yang tinggal di dekat sungai, di atas sungai dan dataran rendah di wilayah itu, merupakan yang paling beresiko. (*)